Sunday, April 1, 2018

GKJW Peniwen Malang

Desa Peniwen merupakan sebuah desa yang berada di lereng selatan Gunung Kawi dan jauh dari perkotaan. Desa tersebut memiliki kekhasan sebagai sebuah desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Hampir 99% penduduknya menganut agama Kristen.
Sebagai desa Kristen, Desa Peniwen masih menyimpan sejumlah bangunan lawas yang menjadi saksi perjalanannya dalam menganut kekristenannya. Bangunan lawas tersebut merupakan sebuah bangunan ibadah yang bernama Gereja Kristen Jawa Wetan (GKJW) Peniwen. Gereja ini terletak di Jalan Raya Peniwen No. 15 Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di sebelah timur Kantor Desa Peniwen ± 130 meter.
Gereja ini merupakan hasil kegiatan pekabaran Injil kaum awam dan Perhimpunan Pekabar Injil Belanda (Nederlandsch Zendelingsgenootschap – NZG). Menurut F.D. Wellem dalam Kamus Sejarah Gereja (Jakarta: Gunung Mulia, 2006: 126-128), terdapat dua perhimpunan pekabaran Injil yang berjasa bagi munculnya GKJW, yaitu NZG dan Komite Jawa. Komite Jawa memberitakan Injil di kalangan orang Madura di pesisir Jawa Timur (1876). Hasil pekerjaannya diserahkan kepada NZG.



Pada tahun 1851, NZG mulai memberitakan Injil kepada orang Jawa dengan mengutus misionarisnya yang pertama, yaitu Pendeta J.E. Jellesma. Ia berkedudukan di Mojowarno. Di sana sudah terdapat jemaat yang terdiri dari orang Kristen Jawa yang diusir dari Ngoro karena menerima corak kekristenan Johannes Emde (Barat). Setelah Coenrad Laurens Coolen meninggal (1873), pengikut Coolen diasuh oleh NZG. Dengan demikian NZG membangun di atas pekerjaan Emde dan Coolen.
Johannes Emde adalah seorang Jerman yang menikah dengan seorang wanita Jawa dan giat memberitakan Injil kepada orang Jawa pada tahu 1814. Ia adalah anggota jemaat GPI Surabaya. Corak kekristenan yang dibentuk oleh Emde adalah kekristenan Eropa (Barat). Sedangkan Coenrad Laurens Coolen adalah seorang Indo-Belanda. Ayahnya adalah seorang Belanda tetapi ibunya seorang Jawa. Pada tahun 1827, ia membuka hutan di Ngoro dan memberitakan Injil kepada orang Jawa yang berdiam di atas tanahnya sehingga terbentuk jemaat Kristen di Ngoro. Di Ngoro, Coolen membentuk kekristenan yang bercorak Jawa, yaitu campuran antara kekristenan dan kejawen. Dua corak ini hidup sebelum NZG bekerja di jawa Timur.



NZG membuka sekolah, rumah sakit, dan desa-desa Kristen. Desa-desa itu, antara lain adalah Swaru, Peniwen, Sitiarjo, Tulungagung, Sumberagung, Dupak dan Tanjungrejo. Dengan usaha-usaha itu banyak orang Jawa yang menjadi Kristen. Perkembangan GKJW dimulai dari desa.
Setelah Desa Swaru terbentuk pada tahun 1857, beberapa keluarga Kristen dari desa tersebut mencoba babat alas (membuka hutan) di lereng selatan Gunung Kawi pada 17 Agustus 1880, yang kelak menjadi Desa Peniwen. Ada sekitar 20 orang yang membuka hutan di sana yang dipimpin oleh Kiai Zakheus Laksanawi. Pembukaan hutan tersebut selain untuk mencari lahan baru bagi usaha pertanian masyarakat, juga untuk membentuk desa Kristen baru setelah Desa Swaru.
Pada saat babat alas itulah, mereka juga mendirikan sebuah gereja untuk digunakan sebagai tempat peribadatannya. Awalnya bangunannya masihlah cukup sederhana, dan lokasinya pun belum berada di tempat sekarang melainkan berada di dekat Monumen Peniwen Affair. Setelah itu, terbentuklah sebuah perkampungan yang dinamakan Kampung Krajan. Perkampungan tersebut menjadi bagian dari pedukuhan yang ada di Desa Kromengan.



Pada tahun 1883, Pendeta Johannes Kreemer dari Persekutuan Kristen Jawa di Kendalpayak, A.V. Leven, dan A. Setirum mengunjungi kampung ini guna memberkati kampung Kristen yang baru berdiri tersebut. Kemudian pada tahun 1895, kampung tersebut berubah menjadi sebuah desa dan secara administratif disahkan menjadi Desa Peniwen.
Dalam perjalanannya, desa tersebut menjadi berkembang baik dari jumlah penduduknya maupun hasil pertaniannya. Lalu, muncullah ide untuk membangun sebuah gereja yang lebih representatif bagi jemaatnya. Akhirnya pada tahun 1931 dibangunlah gereja yang baru yang lokasinya berada di sebelah timur dari bangunan gereja yang lama ± 400 meter. Bangunan gereja tersebut masih bisa disaksikan sampai sekarang dengan sebutan GKJW Peniwen.
Dilihat dari fasadnya, bangunan gereja ini memiliki langgam Neo-Gothic. Dengan konstuksi pintu dan jendela yang tinggi nampak sebagai ciri arsitektur kolonial Belanda yang telah disesuaikan dengan iklim tropis lembab di daerah Malang. Atapnya berbentuk limasan dengan kemiringan. Pintu utamanya terletak di bagian depan dan berada di tengah, yang diapit oleh dua jendela besar. Pintu utama gereja ini juga dilengkapi dengan porch.
Sedangkan, di bagian dalam gereja berbentuk gaya Joglo Jawa dengan ornamen-ornamen yang terbuat dari kayu. Arsitektur dari gereja ini memang mewujudkan perpaduan antara arsitektur kolonial  dan Jawa.
Kini, GKJW Peniwen merupakan sebuah gereja yang memiliki cakupan wilayah pelayanan yang sangat luas. Berada di antara tiga kecamatan yang berada pada dua kabupaten yang berbeda, yaitu Kecamatan Selorejo dan Kecamatan Doko di Kabupaten Blitar, dan Kecamatan Kromengan di Kabupaten Malang. Untuk wilayah Kecamatan Selorejo, merupakan daerah pelayanan yang biasa disebut Pepanthan Wilayah Barat. Pepanthan Wilayah Barat ini mempunyai 6 pepanthan, salah satunya adalah Pepanthan Boro. Pepanthan Boro merupakan gereja yang menjadi pusat bagi Pepanthan Wilayah Barat. Hal ini terjadi karena akses jalan yang mudah ditempuh dari Induk/Peniwen ke pepanthan dan bagi semua pepanthan yang ada di wilayah barat. *** [100817]

Kepustakaan:
Wellem, F.D., (2006). Kamus Sejarah Gereja. Jakarta: Gunung Mulia
https://revivalentine.blogspot.co.id/p/sejarah-desaku-peniwen.html?view=classic
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:qmiEEyn8e_4J:sinta.ukdw.ac.id/sinta/resources/sintasrv/getintro/01120016/d8d7b63a7913f5157fa4afce518d7d80/intro.pdf+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id

0 comments:

Post a Comment