Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Thursday, May 24, 2018

Pasar Sepur Madiun

Pasar Sepur merupakan salah satu pasar tradisional yang berada di Kota Madiun, dan termasuk pasar yang cukup tua. Situasi di dalam pasar pada waktu saya berkunjung ke sana (04/02-2014) masih terdiri dari bangsal-bangsal yang berisi pedagang sayur, pedagang pakaian, pedagang sembako, dan beberapa penjual makanan. Kira-kira ada sekitar 20 - 30 pedagang  yang masih berjualan di pasar tersebut, baik dalam bentuk los di dalam pasar maupun yang bentuk kios di deretan pintu masuk ke pasar.
Pasar tersebut menarik perhatian saya ketika melintas di depannya lantaran namanya yang cukup unik, dan juga bangunan pasar tersebut masih lawas. Selintas dalam benak, pasar tersebut untuk jualan kereta api atau sepur tapi ternyata tidak. Tapi yang jelas, pasar tersebut merupakan pasar tradisional lama yang ada di Kota Madiun.



Pasar Sepur ini terletak di Jalan Pahlawan, Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Mangu Harjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pasar ini berada di sebelah utara Kantor Pos Besar Madiun, atau sebelah barat Stasiun Madiun ± 290 meter. Tepatnya berada di pertemuan antara Jalan Pahlawan dan Jalan Kompol Sunaryo.
Menurut Olivier Johannes Raap dalam bukunya Kota di Djawa Tempo Doeloe (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2015 hal. 89) dikisahkan bahwa, setelah Perang Diponegero berakhir (1830) di Madiun didirikan sebuah benteng yang berada di tepi Sungai Madiun. Nama bentengnya adalah Fort te Madioen, dan sekaligus digunakan sebagai penanda batas utara Kota Madiun pada waktu itu.
Di sebelah utara benteng pada 1884 dibangun jalur kereta api, perlintasan, dan stasiun. Akibat aktivitas baru di daerah ini, dan karena pasar lain di Madiun cukup jauh, di antara benteng dan tempat sepur lahirlah sebuah pasar kebutuhan pokok warga, yaitu Pasar Sepur (de Spoorpassar te Madioen). Di depan kompleks pasar yang terdiri atas beberapa los, di bawah bayangan pepohonan yang rindang, terdapat kios jualan es balok.



Sejak akhir abad ke-19 di Madiun terdapat sebuah pabrik es Olie & Co. milik seorang pengusaha Belanda bernama Lucas Herman Olie (1847-1933). Lokasi sekarang berada di samping BCA Jalan Sudirman. Es balok hasil produksi pabrik tersebut kemudian didistribusikan secara eceran ke beberapa depot es yang tersebar di berbagai lokasi, termasuk kios yang ada di samping Pasar Sepur.
Dalam perjalanannya, pasar tersebut juga tak luput dari perbaikan maupun renovasi. Pada 1992 pernah mengalami pemugaran, akan tetapi kesan tradisional masih melekat dalam pasar tersebut, yaitu dengan mempertahankan bangunan los di dalam pasar. Kemudian pada 2016, pasar ini mengalami renovasi total dengan menghabiskan dana sekitar Rp 1.596.680,- dan diresmikan pada 20 Januari 2017. Hanya disayangkan, bentuk bangunan yang baru itu seolah meninggalkan estetika layaknya pasar tradisional yang umumnya ada di Pulau Jawa ini. Bangunan yang baru lebih menekankan kepada kepragmatisan semata dengan bentuk kios-kios dengan halaman yang luas dan lebih bersih, padahal pasar tradisonal itu tidak bisa dilepaskan dari los-los yang ada. Di sinilah letak keunggulan pasar tradisonal yang mampu berdenyut, tidak hanya dalam tataran ekonomi akan tetapi juga interaksi.
Meski namanya sekarang dikembalikan ke dalam nuansa kolonial dengan sebutan Pasar Spoor, tetapi dari bentuk bangunannya yang ada malah seolah-olah meniadakan rohnya sebagai pasar tradisonal bersejarah di Kota Madiun. *** [040214]

Gedung Balai Kota Madiun

Berkeliling Kota Madiun memberikan ceritera tersendiri. Sebagai peminat masalah heritage, saya seperti disuguhi aneka bangunan lawas yang ada di sana. Salah satu bangunan kuno yang dapat dijumpai kali ini adalah Gedung Balai Kota Madiun. Gedung balai kota ini terletak di Jalan Pahlawan No. 37 Kelurahan Kartoharjo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur. Lokasi balai kota ini berada di sebelah barat daya Gereja Katolik Santo Cornelius ± 78 meter, atau selatan Bakorwil Madiun ± 350 meter.
Gedung Balai Kota Madiun ini merupakan Kantor Pemerintah Kota Madiun di mana Wali Kota Madiun setiap harinya berkantor di gedung ini. Sehingga, keberadaan gedung ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Kota Madiun.
Ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Gemeente Madioen (Kota Madiun) berdasarkan Inlandsche Gemeente Ordonantie 20 Juni 1918 Staatsblad No. 326, pemerintahan ini kemudian harus berpisah dengan pemerintahan kabupaten. Kenyataannya, tidak serta merta layanan gemeente bisa berjalan sebagaimana mestinya.



Di antaranya disebabkan belum adanya gedung balai kota yang akan digunakan untuk kantor wali kota (burgemeesterkantoor). Sambil mencari lahan untuk lokasi burgemeesterkantoor, layanan gemeente dilakukan di Kantor Assisten Residen, sehingga jabatan wali kota pun masih dirangkap oleh asisten residen.
Pencarian lahan beserta pembiayaannya menjadi pekerjaan rumah yang harus dijalankan oleh Gemeenteraad (Dewan Kota). Perencanaan diawali pada 10 November 1919 dengan membeli tanah seluas 4.317 m² seharga tujuh ribu gulden, tetapi kemudian tanah itu dijual kembali lantaran dalam rentang enam tahun tidak segera dibangun-bangun.
Lalu, pihak Gemeenteraad berusaha mencari lahan lagi, dan akhirnya menemukan lahan yang cukup luas di Residentlaan. Dinamakan denikian karena di jalan itu terdapat tempat tinggal atau rumah residen yang bertugas di Madiun. Rumah dinas residen itu sekarang dikenal dengan gedung Bakorwil Madiun.
Rupanya tanah yang sudah dibeli seluas 14.120 m² dengan harga f 31.500  itu, Gemeenteraad juga belum dapat segera mendirikan gedung untuk kantor wali kota. Baru setelah ada ketetepan untuk posisi jabatan wali kota, yakni Wali Kota pertama Madiun, Roelof Andriaan Schotman, pada November 1928 mulai dilakukan rencana pembangunan gedung balai kota secara implementatif. Pada 1 Februari 1929 Gemeenteraad menerima usulan yang pertama dari empat usulan yang ditawarkan, yaitu usulan pembangunan gedung yang berloteng atau bertingkat dengan biaya yang tertinggi, yaitu sebesar f 117.865. Itupun Gemeenteraad masih harus menggelontorkan uang tambahan sejumlah f 65.000 untuk mencukupi pendirian gedung tersebut.



Selanjutnya, desain gedungnya dipercayakan kepada arsitek Belanda Arthur Amandus Fermont di Batavia, dan sekaligus pengerjaannya ditangani oleh biro arsitek milik sang arsitek dengan nama NV Archictecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam, atau secara singkat dikenal dengan nama Biro Arsitek Fermont-Cuypers. Teken kontraknya dilakukan pada 27 Maret 1929, kemudian pengerjaannya dimulai pada 30 November 1929.
Dalam proyek ini, Biro Arsitek Fermont-Cuypers menggandeng perusahaan marmer terkenal dari Surabaya, Al Marmi Italiani Soerabaja, untuk menghiasi dinding depan balai kota. Selain itu, juga melibatkan seniman Mia Lyons dari Yogyakarta untuk mendekorasi ruangan dewan yang berada di lantai dua. Mia Lyons bernama asli Mevrouw (Nyonya)  Cleton.
Pengerjaan gedung ini selesai pada 1 Agustus 1930, dan peresmiannya dilakukan secara meriah. Peresmian dpimpin langsung oleh Burgemeester pertama Madiun Schotman, dan dihadiri juga oleh Residen Madiun H.C. van Den Bosch.
Pada masa pendudukan Jepang, gedung balai kota ini tetap digunakan kantor wali kota dengan sebutan Madiun Shiyakusho, dengan pejabat wali kota kala itu adalah Shicho (Wali Kota) Soesanto Tirtoprodjo. Kemudian setelah kemerdekaan, gedung itu tetap difungsikan sebagai gedung balai kota hingga sekarang.
Dilihat dari fasadnya, gedung balai kota yang berlantai dua dan bermenara ini memiliki gaya arsitektur Nieuwe Bouwen. Gaya arsitektur ini merupakan arsitektur modern Belanda yang umumnya mengedepankan cahaya, udara, dan ruang. Istilah ini mulai berkembang di Belanda pada tahun 1920-an, dan kemudian dibawa ke Hindia Belanda dengan penyesuaian terhadap iklim dan teknologi setempat.
Gaya ini dianggap sebagai pelopor dari International Style. Karakteristik Nieuwe Bouwen meliputi atap datar, gevel horisontal, volume bangunan yang berbentuk kubus, serta warna putih. Namun untuk atap gedung balai kota ini secara formal tidak menyatakan beratap datar, melainkan telah disesuaikan dengan atap yang ada di Jawa yaitu atap limasan dengan kemiringan tertentu.
Dulu, ditengah-tengah halaman depan terdapat sebuah fontein (air mancur). Di sebelah kiri dan kanan dari bangunan utama ada pintu masuk ke kantor-kantor layanan publik yang bernaung di dalam kompleks gedung tersebut.
Di pekarangan tengah terdapat taman yang tengahnya berbentuk bulat. Pekarangan ini bisa dilihat dari kantor burgemeester dan commisie yang berada di lantai dua bangunan utama. Ruang sekretaris berada di sebelah utara bangunan utama, dan di sebelah kanan terdapat menara. Di atas menara ini dulu dipasang empat jam dinding besar, tapi sekarang diganti logo Kota Madiun.
Galeri yang berada di sebelah utara menghadap ke pekarangan tengah. Semua galeri tidak tertutup, hanya saja disekat dengan dinding setengah tinggi (partisi) dan loket-loket berada di antara tiang-tiangnya digunakan untuk melayani publik sambil menunggu di galeri tersebut.
Pada bagian belakang dari kompleks bangunan gedung ini dulunya ditempati oleh dinas dari Gemeentewerken dan dibelakangnya lagi terletak pekarangan dari werkplaats, garasi, dan lain-lainya. *** [300617]

Fotograper: Rilya Bagus Ariesta Nico Prasetyo

Kepustakaan:
Locale Techniek 2e Jaargang No. 1, Januari 1933
http://arsitektur.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jma/article/view/357/340
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/66914 
https://media.neliti.com/media/publications/111976-ID-karakter-visual-fasade-bangunan-kantor-p.pdf

Tuesday, May 22, 2018

Stasiun Kereta Api Alastua

Stasiun Kereta Api Alastua (ATA) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Alastua, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang yang berada pada ketinggian + 6 m di atas permukaan laut. Stasiun Alastua terletak di Jalan Bangetayu Wetan, Kelurahan Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat daya SMA Al Islam Bangetayu, atau sebelah timur laut Perum Banpres Tlogomulyo.
Bangunan Stasiun Alastua ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda pertama dalam sejarah perkeretaapian. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan adanya pembangunan jalur rel yang pertama kali di Hindia Belanda, yaitu Semarang-Tanggung sepanjang 25 kilometer, pada tahun 1867. Proyek pembangunan jalur rel beserta stasiunnya dikerjakan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).



NIS adalah perusahaan perusahaan kereta api swasta yang didirikan pada 27 Agustus 1863, menjadi perusahaan pertama di wilayah Hindia Belanda. NIS didirikan setelah menerima konsesi dari pemerintah Hindia Belanda untuk pembangunan jalur kereta api pertama. Jalur ini menghubungkan Semarang dan Yogyakarta melalui Kedungjati dan Solo, termasuk jalur cabang dari Kedungjati menuju Ambarawa untuk mendukung kepentingan militer Hindia Belanda.



Jalur yang menghubungkan Semarang hingga Yogyakarta itu merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden. Istilah vorstenlanden ini digunakan orang Belanda dalam sejarah Jawa untuk menyebut daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan empat monarki asli Jawa pecahan dari Dinasti Mataram, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.



Stasiun ini memiliki 6 jalur dengan jalur 3 dan 4 sebagai sepur lurus arah barat menuju Stasiun Tawang dan timur terus ke selatan menuju ke Stasiun Brumbung. Sedangkan, jalur 1,2,3, dan 6 digunakan untuk persilangan, persusulan antarkereta api maupun parkir kereta api. Dilihat dari letaknya bangunan stasiun ini, bisa dikatakan tergolong unik bila dibandingkan dengan keberadaan stasiun lain pada umumnya. Keunikannya terletak keberadaan bangunan utama dari stasiun ini yang diapit oleh lintasan rel kereta api.
Stasiun Alastua ini merupakan stasiun kelas III/kecil yang lokasinya berada paling timur di Kota Semarang, yang berdiri di atas lahan seluas hampir 5 hektar. Bila Stasiun Tawang terkena banjir, stasiun ini akan menjadi ramai bagi pemberhentian kereta api dari arah timur untuk menuju ke barat. Kendati sebagai stasiun kecil, nasib stasiun ini masih tergolong beruntung karena masih dilintasi oleh kereta komuter Kedung Sepur yang memiliki trayek Semarang-Ngrombo (Toroh, Grobogan) secara periodik. *** [220518]

Fotografer: Aris Andrianto Yunus

Astana Karaeng Galesong Ngantang

Sewaktu pergi takziah ke rumah teman di Ngantang, kami berempat dengan berkendara mobil Isuzu Panther keluaran tahun 2001 sempat menyinggahi sebuah makam tua bersejarah. Makam tersebut dikenal dengan Astana Karaeng Galesong, yang terletak di Dukuh Kebonsari, Desa Sumberagung, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi makam ini berada di sebelah tenggara Balai Desa Sumberagung ± 1 kilometer.
Sebelum mengetahui riwayatnya, alangkah baiknya kita mengenal dulu apa arti Astana Karaeng Galesong Ngantang tersebut, yang menjadi judul dari tulisan ini. Istilah Astana Karaeng Galesong Ngantang terdiri dari empat kata, yaitu astana, karaeng, galesong dan ngantang. Kata astana diambil dari bahasa Jawa, dan karaeng serta galesong berasal dari bahasa Makassar. Sedangkan, ngantang merupakan nama sebuah kecamatan di Kabupaten Malang.



Astana, dalam bahasa Jawa, berarti makam atau kuburan. Dalam bahasa Jawa terdapat beberapa kata untuk penyebutan makam antara lain: kuburan (ngoko), astana (krama), dan pesareyan (krama). Karaeng, dalam basa Mangkasara’ (bahasa Makassar), berarti raja. Dalam masyarakat Makassar, karaeng ini dilekatkan pada seorang raja atau penguasa serta keturunannya. Galesong, adalah nama sebuah kerajaan yang berada di Sulawesi Selatan. Ia sebagai kerajaan vassal (bawahan) dari Kerajaan Gowa. Dulu ketika Galesong masih berupa kerajaan, wilayahnya terletak di pesisir Selat Makassar mulai dari Aeng Towa di ujung utara dan berbatasan dengan Kerajaan Gowa sampai ke Mangindara di bagian selatan, dengan luas 68,10 km² dan terdiri dari 23 kampung. Selain itu, Galesong juga menguasai sejumlah pulau seperti Tanakeke, Bauluang, Sitangnga, dan Dandoangang. Tapi sekarang ini Galesong secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Jadi, secara harfiah Astana Karaeng Galesong Ngantang bermakna Makam Raja Galesong di Ngantang. Maka sudah sewajarnya bila masyarakat setempat mengenal makam ini sebagai makam mBah Rojo.



Alkisah, Kerajaan Gowa sempat menjadi kerajaan yang besar dan mahsyur di Sulawesi. Perdagangannya cukup maju dan dikenal di kalangan pelaut di seantero mancanegara. Namun kemudian kegemilangan Kerajaan Gowa mulai terusik semenjak kedatangan bangsa asing yang mulai merebut kawasan perdagangannya dengan melalui monopoli di bumi Nusantara ini. Sejarah mencatat, munculnya Perjanjian Bungaya (cappaya ri Bungaya) yang ditandatangani pada 18 November 1667 oleh I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape atau Sultan Hasanuddin, merupakan bentuk kekalahan Kerajaan Gowa terhadap penguasaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), sebuah Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda, atau biasa disebut dengan Kompeni.
Akibat adanya Perjanjian Bungaya ini menimbulkan banyak ketidakpuasan sebagian dari bangsawan maupun rakyat Kerajaan Gowa. Salah satu di antaranya datang dari I Mannindori Kare Tojeng. Ia adalah putra sulung Sultan Hasanuddin dengan istri keempatnya sultan yang bernama I Hatijah I Lo’mo Tobo, yang berasal dari Bonto Majannang. I Mannindori Kare Tojeng lahir pada 29 Maret 1655 di tempat asal ibunya.



Melihat kecakapan yang dimiliki putra sulung itu, kemudian ia diangkat oleh ayahnya sebagai Kare (Karaeng) di Galesong dengan sebutan lengkap Karaeng Galesong I Mannindori Kare Tojeng. Selain itu, ia kerap juga dipercaya oleh ayahnya untuk menjadi panglima perang Kerajaan Gowa.
Setelah ayahnya tunduk terhadap perjanjian yang dibuat oleh Kompeni itu, Karaeng Galesong melanjutkan perlawanan dengan Kompeni melalui gerilya di mana-mana, termasuk di lautan nan luas. Di tengah kepungan Kompeni secara bertubi-tubi, mengakibatkan Karaeng Galesong menyingkir ke Tanah Jawa pada 1669 bersama laskar dan beberapa kerabat kerajaan yang setia kepadanya.
Di Jawa, ia dan rombongan laskarnya mendarat di daerah Banten untuk terlibat dalam Perang Banten. Di dalam rombongan ini  turut pula Abdul Hamid Daeng Mangale bersama kedua pengawal setianya dan para tokoh besar Kerajaan Gowa lainnya. Mereka itu adalah I Adulu’ Daeng Mangale, I Fatimah Daeng Takontu dan I Mappa Arung Tonra Karaeng Rappocini’. Rombongan ini berjumlah besar, terdiri dari 70 buah armada perang yang memuat 20.000 laskar bersenjata lengkap. Mereka berlabuh di Pelabuhan Banten pada Oktober 1671.



Di tengah berlangsungnya Perang Banten itu, tibalah Raden Kajoran (Panembahan Rama), seorang ulama yang masih kerabat dekat Kerajaan Mataram di Banten. Beliau adalah ayah mertua Raden Trunojoyo yang sedang membangun pergerakan melawan Kerajaan Mataram yang kala itu dikepalai oleh Amangkurat I. Atas permintaan dari Adipati Anom (Raden Mas Rahmat), Raden Kajoran meminta bantuan kepada para petinggi Kerajaan Gowa untuk membantu pergerakan Raden Trunojoyo melawan dominasi VOC di tlatah Mataram.
Permintaan itu kemudian dipenuhi, dan diutuslah Karaeng Galesong I Mannindori Kare Tojeng dan Karaeng Bontomarannu untuk bergabung dengan laskar Trunojoyo di Kediri. Berangkatlah kedua pemberani dari Gowa tersebut bersama laskarnya ke Kediri. Turut serta pula Daeng Mangika, I Mappa Arung Tonra Karaeng Rappocini’, Karaeng Mamampang, dan Sultan Harun Al Rasyid Karaeng Tallo yang disertai juga oleh laskar Bima. Kemudian disusul pemberani lainnya untuk membantu Trunojoyo, yaitu I Muntu Daeng Mangappa dan I Ata Tojeng Daeng Tulolo bersama segenap laskarnya juga.
Karena merasa senasib sepenanggungan, laskar Trunojoyo dan laskar Karaeng Galesong cepat menjadi akrab dalam perjuangan untuk melumpuhkan Mataram yang telah bekerjasama dengan Kompeni. Ketidakpuasan mereka sebenarnya berawal dari campur tangannya Kompeni dalam tataran kekuasaan Mataram.



Demi memperkokoh tali kerjasama perjuangan ini, Trunojoyo pun ingin menikahkan salah satu putrinya dengan Karaeng Galesong. Tapi sebelum perkawinannya berlangsung, Trunojoyo meminta Karaeng Galesong dengan pasukan laskarnya membantu menyerang Gresik dan Surabaya yang berada dalam kekuasaan Adipati Anom. Akhirnya, pasukan Karaeng Galesong berhasil memporakporandakan pasukan Adipati Anom yang kemudian melarikan diri ke Mataram.
Di bawah pimpinan Trunojoyo, gabungan laskar Madura dan Makassar serta Bima berhasil menguasai Kraton Mataram di Pleret hingga mengakibatkan Sang Raja Amangkurat I harus mengungsi ke Tegal hingga menemui ajalnya. Kemenangan demi kemenangan atas pasukan Amangkurat I menimbulkan perselisihan antara Trunojoyo dan Adipati Anom. Trunojoyo diperkirakan tidak bersedia menyerahkan kepemimpinannya kepada Adipati Anom, sehingga kemudian Adipati Anom berbalik mendukung ayahnya dan memusuhi Trunojoyo.
Kemudian penerus Amangkurat I, yaitu Adipati Anom atau Raden Mas Rahmat, meminta bantuan Kompeni untuk memadamkan pemberontakan Trunojoyo. Dengan bantuan dari Kompeni, gabungan pasukan Mataram dan Kompeni berhasil memukul mundur pasukan Trunojoyo dan Karaeng Galesong ke arah Kediri.
Kemudian Kompeni mengejarnya lagi hingga pasukan Trunojoyo terdesak ke Blitar. Dengan sisa pasukan yang ada, mereka tetap melakukan perlawanan sampai akhirnya terdesak lagi ke Batu. Daerah ini dulu masih berupa hutan yang sangat cocok untuk menjadi markas gerilya bagi pasukan Trunojoyo
Untuk membujuk laskar pasukan Karaeng Galesong, Kompeni meminta bantuan Raja Bone Arung Palaka untuk melakukannya. Kompeni menawarkan pengampunan kepada Karaeng Galesong beserta pasukannya yang telah mengalami kelaparan agar mau keluar hutan dan bersedia pulang ke Makassar.
Mendengar hal ini, Trunojoyo merasa khawatir jika kelak pasukannya akan berkurang dratis manakala Karaeng Galesong memenuhi permintaan Kompeni. Akhirnya, Trunojoyo mengambil jalan untuk mengasingkan menantunya ke arah barat (sekarang dikenal dengan Ngantang). Dalam pelarian itu, Karaeng Galesong meninggal lantaran sakit pada 21 November 1679 dan dimakamkan di daerah itu juga yang semula masih dikelilingi hutan belantara.
Kini, makam Karaeng Galesong sudah menyatu dengan pemakaman umum di desa tersebut tapi areal kompleks makamnya masih berbeda dengan kuburan lainnya. Kompleks makam Karaeng Galesong yang berukuran sekitar 100 m² ini dikelilingi oleh tembok terbuat dari batu bata berukuran besar dengan sejumlah pohon kamboja, puring dan hanjuang biksu yang menaungi areal makam tersebut.
Kendati dikenal dengan kuburan mBah Rojo, keadaan makam-makam di kompleks ini sangatlah sederhana. Hanya terbuat dari gundukan tanah yang dikelilingi batu bata yang sudah berlumut. Di sinilah makam Karaeng Galesong dan kerabatnya bersemayam abadi.
Untuk makam Karaeng Galesong sendiri sekarang di sebelah utaranya dipasang prasasti marmer beraksara Arab. Yang isinya kurang lebih berbunyi: “di sinilah dimakamkan seorang pejuang yang berjuang di jalan Allah.” *** [040817]

Sunday, May 20, 2018

Kebun Raya Purwodadi

Kabupaten Pasuruan memang belum seterkenal Malang dalam hal wisata, tetapi kabupaten ini sesungguhnya tidak kalah menariknya dengan Malang. Kabupaten ini menyimpan tempat-tempat wisata yang cukup menarik juga dengan keberagamaannya, seperti wisata pantai, pegunungan maupun yang lainnya. Bahkan di Kabupaten Pasuruan ini terdapat tempat wisata yang jarang dimiliki oleh daerah-daerah wisata lainnya, yaitu Kebun Raya Purwodadi.
Kebun raya ini terletak di Jalan Raya Surabaya-Malang Km. 65 Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi kebun raya ini berada di sebelah timur laut Kantor Polsek Purwodadi ± 700 meter, atau sekitar 450 meter sebelah utara Kantor Pos Purwodadi.



Kebun raya adalah kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik atau kombinasi dari pola-pola tersebut untuk tujuan kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan. Sehingga, keberadaan Kebun Raya Purwodadi sebagai bagian Kebun Raya Indonesia akan selalu menjadi acuan untuk kegiatan konservasi flora ex-situ.
Kebun Raya Purwodadi ini merupakan cabang kebun raya ketiga yang didirikan di Jawa Timur, tepatnya di daerah Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Ide pendirian kebun raya ini datang dari Dr. Lourens Gerhard Marinus (L.G.M) Baas Becking, seorang mantan direktur Kebun Raya Nasional di Bogor (1939-1940). Ia juga adalah seorang ahli botani dan mikrobiologi berkebangsaan Belanda. Dilahirkan di Deventer, Belanda, pada 4 Januari 1895 dari pasangan Marinus Ludovicus Baas Becking dan Anna Maria Helena Berkhout.



L.G.M. Baas Becking menikah dengan Rabina Haverman pada 16 Juni 1919. Dari pernikahan ini, ia mendapatkan 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Setelah kematinan Rabina Haverman, istri pertamanya, Baas Becking kemudian menikahi Johanna Louisa Maria Bombeeck pada 16 Juni 1961. Dari pernikahannya yang kedua ini, ia tidak dikaruniai seorang anak.
Ide pendirian cabang kebun raya ketiga tersebut baru terealisasi pendiriaannya pada 30 Januari 1941, semasa kepemimpinan Dr.  Dirk Fok van Slooten (1941-1943). Berbeda dengan kebun botani lainnya, Kebun Raya Purwodadi ini mengkhususkan pada koleksi tumbuhan yang hidup di lingkungan beriklim kering tropis, karena kekayaan flora di lahan beriklim kering yang banyak terdapat di kawasan timur Indonesia cukup potensial untuk digali dan dimanfaatkan.



Pada 1982 Balai Kebun Raya Purwodadi berbentuk Badan Hukum No. 5301/BH/1982 tertanggal 7 Agustus 1982. Kemudian pada 17 Januari 1987 keluar Surat Keputusan Ketua LIPI No. 25/Kep/D.5/1987 yang mengesahkan Cabang Balai Kebun Raya Purwodadi di bawah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Kebun Raya Bogor, dan Kebun Raya Purwodadi sekarang bernama UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi yang bernaung di bawah UPT Balai Pengembangan Kebun Raya- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Selanjutnya pada 12 Juni 2002 terbit Surat Keputusan Kepala LIPI No. 1018/M/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi, dengan pengesahan sebagai Unit Pelaksa Teknis di bawah kantor Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.



Kebun Raya Purwodadi memiliki areal seluas 845.148 m² pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut dengan topografi datar sampai bergelombang. Lokasinya yangberada di kaki Gunung Baung, menyebabkan curah hujan rata-rata pert ahun 2366 mm dengan bulan basah antara bulan November dan Maret dengan suhu berkisar antara 22° - 32°C.
Mengunjungi Kebun Raya Purwodadi berarti Anda akan menikmati berbagai koleksi tanaman yang ada di dalam areal kebun raya dan sekaligus merasakan kesejukan dan keasriannya. Tumbuhan yang sudah ditanam dan menjadi koleksi di Kebun Raya Purwodadi saat ini sejumlah 11.748 spesimen, 1.925 jenis, 928 marga dan 175 suku.



Koleksi tumbuhan di dalam kebun raya ini dikelompokkan ke dalam 10 lanskap koleksi tanaman, yaitu Palem (Palm Collection), Paku (Fern Collection), Taman Meksiko (Mexican Collection), Bambu (Bamboo Collection), Taman Obat (Medicinal Plant Garden), Polong-polongan (Fabaceae Collection), Area yang dihutankan (Forested Area), Mangga (Mango Collection), Pisang (Banana Collection), dan Taman Bougenville (Bougenvilea Collection).
Pengunjung yang datang kemari bisa langsung mengetahui jenis tanaman itu saat berkeliling. Hampir di setiap tanaman diberi label nama tanamannya. Namun untuk pengelompokan tanaman, pengunjung disarankan untuk melihat papan denah kebun raya yang berada di dekat pintu masuk kebun raya ini.
Di antara koleksi tanaman yang ada, umumnya terdapat halaman rumput (lawn). Ada sekitar 7 lawn di kebun raya ini, yaitu Lawn Kawisto, Lawn Sengon, Lawn Majapahit, Lawn Trembesi, Lawn Bungur, Lawn Sono Keling, dan Camping Ground Wangkal. Selain itu, Kebun Raya Purwodadi juga dilengkapi dengan sejumlah sarana dan prasarana bagi pengunjung, seperti kafetaria, Gedung Informasi Perkebunrayaan, Gedung Cemara, Wisma Tamu Cempaka, kios botani, Kantor/Gedung Ringin, Mushola, Rumah Kaca dan Kios Cinderamata, WC Umum, tempat parkir, jalan setapak (footpath), gazebo maupun area pembibitan (nursesery). *** [090518]

Friday, May 18, 2018

Stasiun Kereta Api Gumuk Mas

Stasiun Kereta Api Gumuk Mas (GM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Gumuk Mas, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 10 m di atas permukaan laut.
Stasiun ini terletak di Dusun Kebonan RT. 01 RW. 01 Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah utara BRI Unit Gumukmas ± 400 meter.

   

Bangunan Stasiun Gumuk Mas ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini dilaksanakan bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Lumajang-Kencong-Balung sepanjang 42 kilometer. Pelaksanaan proyek tersebut dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), pada tahun 1928, yang dikenal dengan O/L-2 (Oosterlijnen-2).
Oosterlijnen-2 ini menunjukkan pembangunan jalur kereta api di Jawa untuk jalur lintas bagian timur yang kedua. Biasanya berfungsi untuk menyambungkan sebuah daerah tersebut ke daerah lainnya yang telah dilalui O/L-1.



Proyek jalur rel Lumajang-Kencong-Balung ini merupakan pembangunan jalur rel kereta api terakhir yang dilakukan oleh SS. Jalur Oosterlijnen milik SS ini mendominasi area jalur kereta api di Jawa Timur (terutama wilayah selatan dan timur) dan sedikit di wilayah timur Jawa Tengah. Selain itu, jalur rel Lumajang-Kencong-Balung ini diciptakan oleh Pemerintah Hindia Belanda karena daerah di sekitar jalur tersebut merupakan areal perkebunan tebu yang sangat luas. Dulu dari Stasiun Gumuk Mas, tebu tersebut diangkut oleh kereta api menuju pabrik gula di Kencong. Komoditas tambahan yang diangkut dari daerah selatan ini adalah beras dan tembakau.



Pada masa Hindia Belanda stasiun ini cukup ramai aktivitas pengangkutan penumpang manusia maupun komoditas perkebunan seperti tebu, beras dan tembakau. Setelah Hindia Belanda merdeka menjadi Indonesia, jalur ini masih sempat bertahan untuk digunakan sebagai aktivitas lalu lintas kereta api kemudian sedikit demi sedikit mulai meredup. Pamornya mulai kalah dengan moda transportasi darat lainnya, seperti colt maupun bus. Akhirnya, Stasiun Gumuk Mas resmi berhenti pada tahun 1975.
Meski bangunan bekas Stasiun Gumuk Mas ini masih tampak berdiri kokoh, sejatinya bangunannya mulai terlantar. Banyak coretan-coretan di temboknya, dan ada atapnya yang mulai bocor karena gentengnya ada yang mlorot. Kini bangunan itu tertutup oleh tanaman Sengon dan Jati Mas oleh masyarakat setempat, dan di dekatnya juga ada kandang sapi milik warga.
Dulu, stasiun ini memiliki 2 jalur rel di mana jalur 1 digunakan sebagai sepur lurus, ke arah barat menuju Stasiun Kencong dan yang ke timur menuju ke Stasiun Balung. Sedangkan, jalur 2 digunakan sebagai transit kereta api manakala terjadi persilangan atau persusulan antarkereta api.
Bila dibiarkan terus-menerus, bangunan bekas Stasiun Gumuk Mas ini akan roboh dengan sendirinya, dan tentunya akan hilang dari sejarah. Ironi memang, bangunan stasiun kereta api yang termasuk dibangun oleh SS diakhir proyeknya di Pulau Jawa malah lebih duluan non aktifnya atau tidak beroperasi lagi. *** [160518]

Fotografer: Harista Weni Jayanti

Stasiun Kereta Api Bayeman

Stasiun Kereta Api Bayeman (BYM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Bayeman, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 6 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Tongas atau Jalan Pantura, Desa Dungun, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah utara atau depan Pasar Bayeman. Di belakang stasiun ini ada pantai yang lumayan indah, yaitu Pantai Bahak Indah.



Bangunan Stasiun Bayeman ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini diperkirakan bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Pasuruan-Probolinggo-Klakah yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, dari tahun 1884 hingga tahun 1895.



Jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (oosterlijnen) sepanjang 74 kilometer. Pengerjaannya dimulai dari Pasuruan menuju Probolinggo dan selesai pada tahun 1884, selang sepuluh tahun barulah dilanjutkan pengerjaannya dari Probolinggo menuju Klakah.



Stasiun ini hanya memiliki 2 jalur rel di mana jalur 1 digunakan sebagai sepur lurus, ke arah barat menuju Stasiun Grati dan yang ke timur menuju ke Stasiun Probolinggo. Mengingat fungsinya sebagai stasiun kelas III atau kecil, aktivitas yang ada di stasiun ini juga tidak banyak. Hanya digunakan sebagai stasiun untuk tempat persilangan atau persusulan antarkereta api. Jadi, tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini.
Sebenarnya bila dilihat letaknya, stasiun ini bisa prospektif untuk angkutan orang maupun barang, mengingat lokasinya yang berseberangan dengan Pasar Bayeman, dan Pantai Bahak Indah. Hal ini pula yang menyebabkan stasiun ini dikenal dengan Stasiun Bayeman meski sesungguhnya letak stasiun ini berada di Desa Dungun, bukan Desa Bayeman. Kemungkinan dulunya stasiun ini berkontribusi kepada kebutuhan yang ada di pasar, atau mengangkut komoditas dari pasar tersebut untuk dibawa ke daerah lain. *** [170518]

Fotografer: Renam Putra Arifianto