Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Jumat, 18 Agustus 2017

Stasiun Kereta Api Ngujang

Stasiun Kereta Api Ngujang (NJG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ngujang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 87 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil. Stasiun Ngadiluwih terletak di Jalan Raya Ngantru, Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat (belakang) Pasar Ngantru ± 180 m.
Bangunan Stasiun Ngujang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar. Pembangunan jalur sepanjang 64 kilometer ini dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda. Jalur rel tersebut merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Kras dan arah selatan menuju Stasiun Tulungagung. Jalur 1 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini. Dulu, di sebelah utara dari bangunan stasiun ini terdapat jalur badug atau jalur buntu.
Stasiun ini tergolong kurang beruntung bila dibandingkan dengan Stasiun Kras yang sama-sama merupakan stasiun kelas III, karena di Stasiun Ngujang tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang. Layanan yang ada di stasiun ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api saja. *** [170617]

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Pugeran

Pugeran merupakan sebuah kampung yang berada di bagian selatan Kota Yogyakarta. Dipilihnya Pugeran sebagai lokasi untuk mendirikan gereja, karena pada waktu itu di Yogyakarta bagian selatan baru ada satu gereja Katolik, yaitu gereja yang berada di Ganjuran.
Selain untuk menampung jemaat Katolik di Yogyakarta bagian selatan dan Bantul bagian utara, juga untuk mengatasi semakin bertambahnya jumlah umat Katolik di Gereja Frasiscus Xaverius Kidul Loji dan Gereja Santo Antonius Bintaran. Hal ini yang menyebabkan muncul ide untuk mendirikan sebuah gereja yang bernama Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Pugeran, atau biasa disebut dengan Gereja Pugeran. Gereja ini terletak di Jalan Suryaden No. 63 Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogayakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gereja ini berada di sebelah timur laut Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta ± 50 m.


Dengan diprakasai oleh Pastor Adrianus Djajasepoetra SJ, yang didukung oleh para bangsawan Jawa seperti Pangeran Suryodiningrat, Pangeran Tedjokusumo, Pangeran Brotodiningrat, dan Pangeran Puger, gereja itu mulai dibangun pada 5 November 1933 dengan menggunakan hasil rancangan dari seorang arsitek Belanda, Johannes Theodorus van Oijen. Sebelumnya, Van Oijen sudah mendesain Gereja Katolik SantoAntonius Bintaran.
Lahan tempat pendirian gereja ini merupakan tanah milik beberapa penduduk yang dibeli oleh Yayasan Papa Miskin, sebuah yayasan Misi di Yogyakarta, yang diatasnamakan Pastor Adrianus Djajasepoetra SJ. Lahan tersebut berada di lokasi yang sekarang menjadi tempat berdirinya gereja ini, yaitu sebuah jalan yang berada antara pojok Beteng Kulon dan Bantul, yang dikenal dengan nama Pugeran.


Gereja ini kemudian diresmikan pada 8 Juli 1934 oleh Pastor A. Van Klanken SJ, dengan diakon Pastor Rektor Xaverius Muntilan dan subdiakon Pastor A. Sukiman Prawirapratama SJ, bersamaan dengan peringatan 75 tahun Misi Yesuit di Hindia Belanda, dan kemudian esok harinya dilakukan pembaptisan pertama Fransiscus Xaverius Suyatna dari Padokan. Pastor pertama yang ditunjuk untuk berkarya di Gereja Pugeran adalah Pastor Adrianus Djajasepoetra SJ.
Berdasarkan catatan tahun 1936, jumlah umat Katolik yang ada di Gereja Pugeran ini adalah 1.010 orang. Sebagian besar umat tersebut terdiri dari umat pribumi Jawa, yang umumnya berasal dari daerah sekitar Pabrik Gula Padokan, dan sekitar gereja tersebut.


Dilihat dari arsitekturnya, gereja ini memiliki fasad yang khas dibandingkan dengan gereja-gereja lain pada umumnya. Pada gereja ini terjadi ‘perkawinan’ antara arsitektur tradisonal Jawa dengan arsitektur Barat. Ciri tradisionalnya bisa dilihat dari atapnya yang berbentuk tajug yang lazim digunakan pada bangunan ibadah tradisional Jawa yang dipengaruhi oleh agama Islam. Namun pada ujung atap terdapat sebuah salib untuk menandakan bahwa bangunan itu adalah bangunan gereja. Sedangkan, ciri dari Barat ditandai dengan dinding-dinding gerejanya. Badan bangunan bagian depan menggunakan langgam Neo-Gothic yang menggunakan moulding pada permukaan dindingnya, dan di atas pintu utama gereja tertulis Ad Maiorem Dei Gloriam, yang artinya “Demi kemulian Tuhan yang lebih besar”.


Gereja Pugeran ini merupakan salah satu gereja yang mampu bertahan menghadapi gejolak sosial dan politik, karena Paroki Pugeran mampu menjadi bagian dari lokalitas masyarakat di sekitarnya dengan berperan langsung sebagai bagian dari media perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada masa Agresi Militer Belanda II, pasukan Belanda melakukan serangan terhadap Kota Yogyakarta. Pada saat serangan tersebut, banyak orang mengungsi menuju ke arah selatan dari Kota Yogyakarta. Halaman Gereja Pugeran penuh dengan pengungsi. Pastor dan para pembantunya berusaha untuk melindungi dan mengayomi para pengungsi yang mengungsi di halaman Gereja Pugeran. Mereka mengusahakan obat-obatan dan makanan bagi para pengungsi serta merawat yang terluka dan sakit. Sementara, mayat yang bergelimpangan akibat dari perang tersebut, juga dikuburkan dengan layak oleh pastor dan para pembantunya.
Peristiwa heroik itu diabadikan dalam sebuah prasasti yang dibangun di depan gereja, dan tepatnya berada di belakang patung Hati Kudus Yesus. Prasasti tersebut berbunyi: “Di bawah naungan Hati Kudus Juru Selamat Kristus para pastor beserta umat paroki Pugeran dengan penuh bakti serta syukur memperingati hari ulang tahun ke-50 Gereja Hati Kudus tercinta ini, khususnya dengan kenang-kenangan bahagia bahwa pada hari-hari yang paling gelap penuh derita 19 Desember 1948 - 19 Juni 1949 selama Perang Kemerdekaan Republik Indonesia tempat ini telah menjadi pengungsian dan perlindungan bagi penduduk tak bersalah di sekitar gereja Pugeran dan merupakan tempat penghubung rahasia pula antara para pejuang gerilyawan Perang Kemerdekaan Republik Indonesia yang bergerak di dalam dan di luar kota Yogyakarta”. *** [210717]

Kepustakaan:
http://library.fis.uny.ac.id/elibfis/index.php?p=show_detail&id=998&keywords=
https://www.academia.edu/2348128/Tinjauan_Inkulturasi_Agama_Katolik_dengan_Budaya_Jawa_pada_Bangunan_Gereja_Katolik_di_Masa_Kolonial_Belanda_Studi_Kasus_Gereja_Hati_Kudus_Yesus_Pugeran_

Kamis, 17 Agustus 2017

Stasiun Kereta Api Ngadiluwih

Stasiun Kereta Api Ngadiluwih (NDL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ngadiluwih, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 78 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil. Stasiun Ngadiluwih terletak di Jalan Stasiun Ngadiluwih, Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat Kantor Camat Ngadiluwih ± 260 m.
Bangunan Stasiun Ngadiluwih ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar. Pembangunan jalur sepanjang 64 kilometer ini dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda. Jalur rel tersebut merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 3 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Kediri dan arah selatan menuju Stasiun Kras. Jalur 1 dan 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini. Dulu, di sebelah utara dari bangunan stasiun ini terdapat jalur badug atau jalur buntu.
Meski Stasiun Kras tergolong sebagai stasiun kelas III atau stasiun keci, namun keberadaannya masih beruntung bila dibandingkan dengan stasiun kecil lainnya. Karena di stasiun ini masih terdapat satu kereta api yang singgah melayani penumpang di stasiun ini, yaitu KA Dhoho. Sehingga, aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini masih menghiasi aktivitas stasiun ini dalam kesehariannya. *** [170617]

Stasiun Kereta Api Palbapang

Stasiun Kereta Api Palbapang (PLP) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Palbapang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 45 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Srandakan No. 52a, Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat Balai Desa Palbapang ± 210 m.
Bangunan Stasiun Palbapang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Yogyakarta-Srandakan yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), pada tahun 1895, sebagai bagian dari proyek jalur kereta api di untuk line D/B (Djocja-Brosot). Jalur sepanjang 23 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Yogyakarta menuju Brosot hingga Sewugalur.


NISM mendapatkan konsesi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 28 Agustus 1862, namun pengerjaan konstruksi jalur kereta api dimulai dari 1867 sampai dengan 1924. Dalam kurun waktu itu, NIS berhasil membangun jalur rel kereta api sepanjang 266 kilometer untuk trek lebar (breedspoor) 1435 mm, dan 582 kilometer untuk rel lebih kecil (smalspoor) 1067 mm. Semula jalur rel Yogyakarta-Srandakan menggunakan trek lebar, namun pada tahun 1943 lebar rel tersebut diperkecil menjadi ukuran 1067 mm.
Dulu, jalur rel kereta api Yogyakarta-Srandakan memiliki sejumlah pemberhentian, baik berupa stasiun maupun halte, seperti Stasiun Ngabean, Halte Dongkelan, Stasiun Jepit, Stasiun Bantul, Stasiun Palbapang, Stasiun Batikan, dan Stasiun Srandakan. Lalu, dari Srandakan diperpanjang ke Brosot hingga Sewugalur, yang mulai dikerjakan pada tahun 1915 dan selesai pada tahun 1916. Tapi akhirnya, jalur rel Brosot-Sewugalur dibongkar (opgebroken) oleh tentara Jepang.


Stasiun Palbapang ini sekarang sudah non aktif. Diperkirakan ditutup oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api pada tahun 1973 lantaran semakin menurunnya jumlah penumpang yang ada di sepanjang jalur tersebut. Hal ini dikarenakan pada waktu itu kalah bersaing dengan moda transportasi darat lainnya, seperti bus maupun kendaraan pribadi.
Kini, Stasiun Palbapang telah berubah menjadi Terminal Palbapang. Hal ini sesuai dengan tulisan yang tertera dalam prasasti yang menempel di dinding, bahwa Terminal Palbapang Bantul didirikan di bekas Stasiun Kereta Api Palbapang dan dibangun atas bantuan dari Yayasan Pendidikan “Kerja Sama”, pada 20 Juli 1990. Namun demikian, bangunan Stasiun Palbapang tetap dipertahankan seperti sediakala atau masih dalam bentuk aslinya, kendati sudah berubah peruntukkannya. *** [210817]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Rabu, 16 Agustus 2017

Stasiun Kereta Api Susuhan

Stasiun Kereta Api Susuhan (SS) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Susuhan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian +60 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Kertosono-Kediri, Desa Gampengrejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Polsek Gampengrejo ± 210 m, atau selatan Kantor Pos Gampengrejo ± 220 m.
Bangunan Stasiun Susuhan ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Sembung-Kertosono-Kediri sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1881. Jalur ini merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Minggiran dan arah selatan menuju Stasiun Kediri. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Setiap hari stasiun ini terlihat sepi, karena di stasiun itu sudah tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan orang. Layanan yang dimiliki saat ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api. *** [140817]

Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran

Kawasan Bintaran merupakan salah satu kawasan permukiman yang dikembangkan oleh Pemerintah Hnidia Belanda di Yogyakarta. Pengembangan kawasan ini lantaran permukiman orang-orang Belanda maupun Eropa yang lama di kawasan Kidul Loji atau Secodiningratan sudah padat. Kawasan Kidul Loji sendiri berada di sebelah selatan Benteng Vredeburg, yang berjarak satu kilometer dengan kawasan Bintaran.
Dalam pengembangan kawasan Bintaran tersebut, juga didirikan fasilitas keagamaan berupa gereja Katolik yang bernama Gereja Katolik Santo Yusup, atau yang dikenal juga dengan Gereja Bintaran. Gereja ini terletak di Jalan Bintaran Kidul No. 5, Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gereja ini berada di depan Bintaran Mart, atau H Royal Residence Bintaran.


Gagasan mendirikan gereja di Bintaran ini berawal dari keprihatinan akan keterbatasan ruang gereja yang ada di Gereja Santo Frasiskus Xaverius Kidul Loji. Pada waktu itu, Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji masih didominasi oleh jemaat yang terdiri dari orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. Orang-orang kulit putih menempati bangunan utama gereja, sedangkan jemaat orang-orang pribumi Katolik memilih menempati gudahng sisi timur gereja.
Seiring perkembangan waktu, gudang tersebut tak mampu lagi untuk menampung jemaat pribumi Katoilk. Situasi dan kondisi yang demikian menjadi perhatian Pastor Henri van Driessche SJ, untuk membangun gereja yang khusus untuk jemaat orang-orang pribumi Katolik tersebut.
Setelah penggalangan dana terkumpul, maka dibuatlah desain bangunan gereja yang dipercayakan kepada Ir. Johannes Theodorus van Oijen. Van Oijen adalah seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang telah banyak berkiprah di kota-kota yang ada di Hindia Belanda, seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya. Ia kelahiran Den Haag pada 3 Oktober 1896, dan meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung pada 11 Juli 1944.


Pembangunan gereja dimulai pada tahun 1933, dan kontraktor pelaksananya dilakukan oleh sebuah perusahaan bangunan milik Belanda bernama Naamloze Vennootschap (NV) “Hollandsche Beton Maatschappij”. Luas bangunan gereja adalah 720 m² yang berdiri di atas lahan seluas 5024 m². Tinggi bangunan gereja 13 m, lebar 20 m dan panjang 36 m.
Secara visual bangunan Gereja Bintaran memiliki keunikan bila dibandingkan dengan gereja-gereja lainnya yang ada di Yogyakarta. Gereja ini mempunyai atap plat beton lengkung tinggi yang diapit oleh atap datar. Langgam arsitektur gereja seperti itu hanya ada dua, yang satunya ada di Belanda yang menjadi induk dari gereja ini.
Gedung gereja ini diresmikan pada hari Minggu, 8 April 1934 bersamaan dengan misa ekaristi untuk pertama kalinya yangdihadiri sekitar 1800 jemaat Katolik pribumi. Peresmian gereja dilakukan oleh Mgr. A. Th. Van Hoof SJ, Vikaris Apolistik didampingi oleh Pastor Van Kalken SJ, Kepala Misi Jesuit di Jawa dan Pastor G. Riestra SJ, Pastor Kepala di Yogyakarta. Selain itu, juga dihadiri oleh dua orang wakil masyarakat Katolik pribumi, Raden B. Djajaendra dan Raden Mas L. Jama. Keduanya bekas murid sekolah guru Muntilan yang saat itu bekerja di sekolah Bruderan Yogyakarta.
Setelah itu, Pastor pertama yang berkarya di Bintaran adalah Pastor A.A.C.M. de Kuyper SJ dibantu oleh Pastor A. Soegijopranoto SJ. Mereka berdua sudah dipercaya memegang Paroki Bintaran sejak 12 Oktober 1933, satu tahun sebelum gereja diresmikan penggunaannya.
Menilik data antara Juli 1935 sampai Juni 1936 diketahui bahwa, jumlah jemaat Paroki Bintaran berjumlah 4.695 orang. Dari jumlah itu, hanya ada 26 jemaat orang Eropa. Selaras dengan ide awal pendirian gereja ini, perbandingan ini telah mengokohkan bahwa Gereja Bintaran memang merupakan Gereja Katolik Jawa pertama di Yogyakarta.
Anton Haryono dalam bukunya, Awal Mulanya Adalah Muntilan: Misi Jesuit di Yogykarta 1914-1940 (Kanisius, 2009) menjelaskan bahwa, daerah Yogyakarta merupakan tanah Misi paling subur di Jawa, yang tidak hanya tercermin dari pertumbuhan umat, tetapi juga dari kesuburan panggilan imamat dan hidup membiara. Dari daerah inilah untuk pertama kalinya di Indonesia muncul imam, biarawan, dan biarawati pribumi. Bahkan, kardinal pertama juga berasal dari daerah Yogyakarta.
Di sisi lain, gereja ini juga mempunyai peran dalam proses perjuangan kemerdekaan. Pada saat Ibu Kota Pemerintahan RI dipindahkan ke Yogyakarta, Gereja Bintaran menjadi tempat persembunyian keluarga Bung Karno dan Hatta yang kala itu dibuang ke bukit tinggi. Selain itu, gereja ini juga menjadi tempat rintisan sekolah pribumi Kolese Debrito, dan sering kali digunakan sebagai tempat pertemuan kelompok gereja Katolik, salah satunya adalah Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) yang berlangsung dari tanggal 12 sampai dengan 17 Desember 1949 yang menghasilkan Partai Katolik Indonesia.
Kini, Gereja Bintaran menjadi cagar budaya yang dilindungi oleh negara berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tentang Penetapan Situs Dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala Yang Berlokasi Di Wilayah Propinsi DIY Sebagai Benda Cagar Budaya Atau Kawasan Cagar Budaya. *** [210717]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Kepustakaan:
Haryono, Anton. (2009). Awal Mulanya Adalah Muntilan: Misi Jesuit di Yogykarta 1914-1940. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
http://journal.unpar.ac.id/index.php/rekayasa/article/viewFile/1355/1312
http://loncengbintaran.blogspot.co.id/2007/12/sejarah-gereja-santo-yusup-bintaran.html
http://lppmsintesa.fisipol.ugm.ac.id/mengunjungi-gereja-jawa-pertama-di-yogyakarta/
https://www.academia.edu/7666653/Rekam_Jejak_Arsitektur_Indis_di_Bintaran

Senin, 14 Agustus 2017

Stasiun Kereta Api Minggiran

Stasiun Kereta Api Minggiran (MGN) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Minggiran, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian +56 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Minggiran RT. 01 RW. 03 Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur BRI Unit Bangsongan, atau selatan Dealer Tri Jaya Motor.
Bangunan Stasiun Minggiran ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Sembung-Kertosono-Kediri sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1881. Jalur ini merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Papar dan arah selatan menuju Stasiun Susuhan. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Setiap hari stasiun ini terlihat sepi, karena di stasiun itu sudah tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan orang. Layanan yang dimiliki saat ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api. *** [140817]