Rabu, 19 Maret 2014

Gedung Bank Indonesia Medan

Di sekitar Lapangan Merdeka Medan banyak dijumpai bangunan tua bersejarah, di antaranya Stasiun Kereta Api Medan, Kantor Pos Besar Medan, Inna Dharma Deli Hotel, Bank Indonesia, Balai Kota Lama, maupun Bank Mandiri.
Bangunan tua itu dulunya muncul bersamaan dengan perkembangan Kota Medan di wilayah Pantai Timur Sumatera akibat adanya perkebunan tembakau di daerah Deli. Termasuk salah satunya pembukaan Bank Indonesia di Medan sebagai kebutuhan untuk menunjang kebijakan moneter pemerintah Hindia Belanda di Karesidenan Pantai Timur Sumatera.
Gedung Bank Indonesia tersebut terletak di Jalan Balai Kota No. 4 Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Lokasi ini berada di antara Balai Kota Lama Medan dan Inna Dharma Deli Hotel.
Berdasarkan catatan historis yang ada, dahulu Gedung Bank Indonesia Medan merupakan Kantor Cabang  De Javasche Bank yang ke-11. Kantor ini  mulai dibuka pada tanggal 30 Juli 1907 bersamaan dengan Kantor Cabang Tanjung Balai dan Tanjung Pura yang masing-masing dibuka pada tanggal 15 Januari 1908 dan 3 Februari 1908. Namun, akibat adanya pengaruh resesi dunia tahun 1930-an, mengakibatkan Kantor Cabang Tanjung Balai dan Tanjung Pura akhirnya terpaksa ditutup.


Pada saat berdirinya, Kantor Cabang Medan hanya menempati sebuah bangunan sementara. Untuk gedung kantor yang permanen atas petunjuk pemerintah disediakan sebidang tanah di dekat Esplanade (lapangan umum) yang pembangunannya diharapkan dapat dilaksanakan sebelum selesainya politik moneter “guldenisasi” Karesidenan Pantai Timur Sumatera. Untuk persiapan pendirian kantor-kantor di Tanjung Balai dan Tanjung Pura, Kepala Biro Arsitek Hulswit en Fermont te Weltevreden Ed. Cuypers te Amsterdam, yang biasa disingkat menjadi Hulswit, Fermont dan Ed. Cuypers, diminta untuk merancang pembangunan gedung kantor kedua tempat itu. Rencana pembangunan gedung kantor yang permanen bagi kantor cabang Medan dilakukan bersamaan dengan perluasan tahap kedua gedung Kantor Pusat (Jakarta Kota) pada 1912 yang sekaligus juga merencanakan pembangunan gedung beberapa kantor cabang lainnya. Gedung-gedung ini menunjukkan ciri arsitektur yang sama mengikuti ciri arsitektur Eropa yang khas pada zamannya, dengan ditengarai oleh adanya kubah yang ada di puncak atap bangunan. Kubah ini pernah dihilangkan pada tahun 1956, lalu bangun kembali ketika dilakukan restorasi besar pada tahun 2002.
Di menara bangunan ini terdapat sebuah bel yang merupakan sumbangan dari Tjong A Fie, seorang pengusaha ternama sekaligus pemimpin komunitas Tionghoa di Kota Medan pada awal abad ke-20.
Setelah kemerdekaan, De Javasche Bank dinasionalisasi oleh Presiden Soekarno menjadi Bank Indonesia, yang berfungsi sebagai Bank Sentral dan Komersial sesuai dengan Undang-Undang (UU) Bank Sentral Tahun 1953. Dengan perubahan tersebut, De Javasche Bank berubah menjadi Bank Indonesia Medan. Setelah reorganisasi Bank Indonesia pada tahun 1996, sebutan kantor cabang berubah menjadi Kantor Bank Indonesia Medan dan berlaku sampai saat ini.
Kantor Bank Indonesia Medan pertama kali dipimpin oleh L. Von Hemert dan pada tahun 1951 saat nasionalisasi pemimpin cabang adalah SF van Musschenbroek dan pada saat UU Bank Indonesia 1953 diberlakukan, pemimpin cabang Medan adalah M. Plantema dan putra Indonesia pertama yang mengendalikan Bank Indonesia cabang Medan adalah M. Rifai.
Kemegahan Gedung Bank Indonesia Medan sampai saat ini masih bisa disaksikan. Bangunan ini tergolong mujur dalam hal kepemilikannya, karena Bank Indonesia memiliki perhatian yang besar terhadap pelestarian bangunan tua yang dimilikinya meskipun bangunan ini juga sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) berdasarkan UU Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010 dan Peraturan Daerah (Perda) Kota Medan No. 2 Tahun 2012. *** [130314]

Kepustakaan:
http://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian-ekonomi-regional/sumut/profil/Contents/KBI.aspx

0 komentar:

Posting Komentar