Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Minggu, 26 Maret 2017

Cagar Alam Pulau Sempu

Selesai melakukan in-depth interviewing dengan salah seorang responden yang pernah menderita diabetes mellitus (kencing manis) di Cepokomulyo, tiba-tiba mendapat What's App (WA) dari Asisten Koordinator tentang kedatangan Principal Investigator di Sekretariat SMARTHealth di Dilem, Kepanjen. Kedatangannya kali ini memang spesial, selaras dengan peribahasa 'bagai pucuk dicinta, ulam pun tiba'. Mengapa demikian? Di tengah kepenatan rutinitas pekerjaan, sekonyong-konyong mendapatkan sesuatuyang lebih daripada apa yang diharapkan, yaitu mendapat ajakan untuk refreshing ke Pantai Sendang Biru yang berada di bibir Samudera Indonesia. Dengan berkendara mobil Honda Mobilio, berangkatlah kami berempat ke Pantai Selatan tersebut.
Sesampainya di Pantai Sendang Biru, kami langsung diajak naik perahu berkeliling ke Pulau Sempu. Pulau Sempu adalah sebuah pulau kecil tak berpenduduk dengan karakteristik kekayaan flora dan fauna yang khas yang berada di sebelah selatan Pulau Jawa, yang secara administratif terletak di Dusun Sendang Biru, Desa Tambak Rejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pulau ini berada di seberang Pantai Sendang Biru yang berbatasan dengan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) di sebelah utara, dan dikelilingi oleh Samudera Indonesia di sebelah selatan, timur dan barat.


Konon, nama Sempu yang disematkan kepada pulau kecil tersebut adalah diambil dari nama salah satu jenis pohon yang ditemukan di pulau itu, yaitu pohon sempu. Tanaman sempu – ada juga yang menyebut dengan simpur atau sempur – merupakan tanaman yang pada umumnya tumbuh di daerah rawa atau dataran rendah yang banyak airnya. Ukuran batang pohonnya cukup besar, dan bisa mencapai ketinggian sekitar 15 meter. Dalam bahasa Latin, pohon sempu disebut Dillenia indica yang masih tergolong dalam famili dilleniaceae.
Selain mengenal asal usul nama dari pulau ini, menariknya lagi dari pulau ini adalah ditetapkannya pulau ini sebagai kawasan cagar alam. Menurut sejarahnya, kawasan hutan Pulau Sempu telah dijadikan sebagai cagar alam semenjak zaman Hindia Belanda, yaitu berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie) Nomor 46 Staatsblad van Nederlandsch Indie Nomor 69 tanggal 15 Maret 1928 dengan luas ± 877 hektar. Kemudian diperkuat dalam Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Seluas 1.357.206,20 (Satu Juta Tiga Ratus Lima Puluh Tujuh Ribu Dua Ratus, Dua Puluh Perseratus) Hektar.


Penetapan Pulau Sempu sebagai cagar alam didasarkan pada faktor botanis, estetis, dan topografi (geologis), di mana potensi flora dan fauna serta posisi Pulau Sempu yang sangat dekat dengan Pulau Jawa menyebabkan Pulau Sempu mempunyai nilai lebih terkait keterwakilan kondisi hutan dan ekosistem daratan Pulau Jawa. Sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dijelaskan bahwa penetapan kawasan hutan tersebut sebagai cagar alam karena kondisi alamnya yang khas beserta potensi flora dan faunanya, sehingga perlu dilindungi bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Keanekaragaman flora dan fauna di Pulau Sempu cukup beragam. Dari data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur tahun 2009 menjelaskan, bahwa dari tumbuhan tingkat pohon, tiang, semak, hingga tumbuhan bawah. Tumbuhan tingkat pohon sejumlah 296 jenis, tumbuhan tingkat tiang 314 jenis, tumbuhan semak 103 jenis, dan tumbuhan bawah 126 jenis, sedangkan keragaman satwa liat di Cagar Alam Pulau Sempu ± 72 jenis, terdiri dari 47 jenis aves, 16 jenis mamalia, 4 jenis amfibi, dan 5 jenis reptil. Selain itu, diperkirakan masih terdapat spesies-spesies lain yang belum teridentifikasi.


Jenis vegetasi yang dapat ditemukan di seluruh Pulau Sempu, antara lain bendo (Artocarpus elasticus), triwulan (Terminalia), wadang (Pterocarpus javanicus), dan Buchanania arborescens. Vegetasi hutan pantai didominasi oleh Baringtonia raceunosa, nyamplung (Claophylum inophylum), ketapang (Terminalia catappa), waru laut (Hibiscus tiliaceus) dan pandan (Pandanus tectorius). Sedangkan, jenis vegetasi mangrove yang dapat dijumpai di Pulau Sempu, yaitu bakau Rizophoran mucronata dan bakau Rizophora apiculata, api-api (Avicennia sp.) dan tancang (Bruguiera sp.).
Adapun jenis satwa liar yang terdapat di kawasan Cagar Alam Pulau Sempu, di antaranya lutung Jawa (Tracypithecus auratus), kera hitam (Presbitis cristata pyrrha), kera abu-abu (Macaca fascicularis), babi hutan (Sus sp.) kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus javanicus), raja udang (Alcedo athis), ikan belodok (Periopthalmus sp.), kepiting (Ocypoda stimsoni), kelomang (Dardanus arropsor), kupu-kupu (Sastragala sp.) dan semut (Hymenoptera).


Keunikan lain yang ada di Cagar Alam Pulau Sempu ini adalah ekosistem Segara Anakan, yang merupakan danau di dalam kawasan yang airnya berasal dari air laut yang melewati celah atau karang berlobang (bolong). Selain itu, Cagar Alam Pulau Sempu ini dikelilingi oleh pantai yang berpasir putih dan pemandangan dasar laut di sekitar pantainya masih kelihatan dengan jelas.
Keindahan alam yang terdapat di Cagar Alam Pulau Sempu inilah yang akhirnya mengoda para wisatawan di Pantai Sendang Biru untuk mengunjungi pulau tersebut. Awalnya, yang dibuat untuk kunjungan wisatawan adalah Pantai Sendang Biru dengan segala objek yang dimilikinya, seperti pantai, pasar ikan rakyat, TPI, dan wisata laut di Selat Sempu. Namun, sekarang telah muncul jasa perahu yang siap mengantarkan wisatawan untuk mengunjungi Pulau Sempu. Kendati, hanya sekadar mandi di pantai Pulau Sempu yang berhadapan dengan Pantai Sendang Biru sampai kepada bermalam dengan mendirikan tenda di Pulau Sempu.
Secara aturan sebenarnya tidak boleh. Sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku, kawasan cagar alam merupakan tempat di mana habitat alami tanaman dan satwa dilindungi keberadaannya sehingga tidak semua aktivitas manusia bisa menjangkau kawasan ini secara bebas. Hal ini dilakukan agar supaya kelestarian cagar alam ini tetap terjaga kelestariannya.
Kalau pun ada pihak yang diperbolehkan mengunjungi Pulau Sempu pada dasarnya adalah para peneliti, para ahli, dan para pemerhati lingkungan hidup. Itupun harus mengajukan perijinan terlebih dahulu kepada pengelola cagar ala mini jauh-jauh hari sebelum kunjungan ke Pulau Sempu.
Semoga wisatawan bisa mengerti dengan kebijakan yang telah digulirkan oleh pihak terkait yang memiliki wewenang mengelola Cagar Alam Pulau Sempu. *** [180317]

Kepustakaan:
Irawanto R, Abywijaya IK, Mudiana D, 2017. Kajian pustaka keanekaragaman tumbuhan di Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur, dalam Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 3: 138-146
http://bbksdajatim.org/cagar-alam-pulau-sempu-2
https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sempu
http://www.kinisehat.com/2016/04/manfaat-daun-simpur-sehat-cantik.html
http://www.menlhk.go.id/halperaturan-44.html

Sabtu, 04 Maret 2017

TPU Sukun Nasrani Malang

Perjalanan dari Kepanjen menuju Kampus FIA UB untuk menghadiri meeting dengan Principal Investigator, saya acapkali memotong jalan melalui Mergan, sebuah jalan bekas rel yang dulunya dilalui lori (kereta pengangkut tebu). Pas tikungan mau masuk Jalan Mergan tersebut, saya sempat berhenti untuk melihat bangunan lawas yang khas bentuk arsitekturnya.
Bangunan lawas tersebut merupakan pintu utama masuk ke dalam Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sukun Nasrani Malang. TPU tersebut terletak di Jalan Sudanco Supriadi No. 38 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Lokasi TPU ini berada di belakang SPBU 54.651.14 Sukun atau bersebelahan dengan Bank Sampah Malang.
Keberadaan TPU Sukun Nasrani ini tidak terlepas dari rencana perkembangan Kota Malang yang telah digagas pada masa kolonial. Rencana perkembangan Kota Malang pada masa itu melalui tahap-tahap yang berkelanjutan, yang dikenal dengan istilah bouwplan I sampai VIII. Bouwplan tersebut tidak lepas dari ide Wali Kota Malang pertama, yaitu H.I. Bussemaker (1919-1929), yang pengerjaannya dijabarkan oleh Ir. Herman Thomas Karsten, seorang arsitek perencana kota yang cukup terkenal pada waktu itu.
Pada waktu memasuki bouwplan III, pihak Dewan Kota (Gemeenteraad) mengadakan rapat sebanyak 2 kali, yaitu pada tanggal 26 Agustus 1919 dan 26 April 1920. Dari hasil rapat tersebut, Dewan Kota memutuskan untuk membuat suatu kompleks pemakaman yang cukup luas guna menampung kebutuhan akan makam bagi orang Eropa yang tinggal di Malang. Sebelumnya, pemakaman golongan orang Eropa berada di Klojen Lor akan tetapi karena dirasa sudah tidak layak lagi apabila sebuah kompleks pemakaman terdapat di tengah-tengah areal perumahan.


Akhirnya, daerah yang dipilih adalah daerah Sukun (Staadgemeente Malang 1914-1939 XLVI) yang terletak di sebelah tenggara Kota Malang. Hal itu dimungkinkan, karena daerah tersebut merupakan pintu masuk satu-satunya ke Kota Malang dari Blitar, dan terdapatnya pabrik gula ada di kawasan tersebut. Sebelumnya pernah dipilih daerah Bareng dan Kauman yang memiliki luas sekitar 25 hektar, akan tetapi kemudian dibatalkan. Setelah itu dicoba di daerah Lowokwaru, namun juga tidak jadi terwujud lantaran adanya protes dari penduduk sekitar bakal calon lokasi pemakaman tersebut.
Pembangunan kompleks makam Sukun tersebut dilakukan secara bertahap. Pada awalnya dibangun terlebih dahulu pintu gerbangnya. Bangunan pintu gerbang makam dibuat kokoh dan kuat dengan arsitektur kolonial, dan sampai sekarang belum pernah dirubah bentuknya. Dulu, di bagian atas lengkungan pintu gerbang terdapat tulisan:

“De nacht van den dood
Is de dageraad van den geest.”

Yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, memiliki arti sebagai berikut:

“Malam kematian
Adalah fajar pikiran.”

Sekarang tulisan itu sudah tidak ada lagi. Kompleks makam seluas 120.000 m² ini semula mempunyai nama Europese Begraafplaats Soekoen te Malang (Kuburan Orang Eropa di Sukun Malang ), atau arek Malang kala itu menyebutnya dengan istilah Bong Londo.
Sesuai namanya, makam ini banyak menyimpan jasad orang Belanda maupun orang Eropa. Jasad-jasad yang terbaring di makam tersebut, di antaranya: Rob van de Ven Renardel de Lavalette, Letnan Georges Lodewijk Geuvels (KNIL), Th. A.M. Gout (Kontroler Surabaya-Bangil), Pantaleon Hajenius (Kapten Infanteri KNIL), Guusje Mulié (putri drg. Mulié Malang), Dolira Advonso Chavid (konon diyakini sebagai Tante Dolly yang begitu melegenda di Surabaya), dan lain-lain.
Pada masa pendudukan Jepang, makam ini diambil alih oleh pasukan Jepang untuk menjadi tempat pemakaman pasukan Jepang yang meninggal di Malang dan sekitarnya. Sebagai buktinya, di dalam kompleks makam tersebut dibuatkan monumen untuk pemakaman 50 jenasah tentara Jepang yang setiap tahunnya selalu diperingati dengan tujuan mendoakan arwahnya.
Setelah Indonesia merdeka, makam ini beralih fungsi menjadi tempat untuk mengubur jasad-jasad orang Tionghoa dan orang-orang yang beragama Katolik maupun Kristen. Berawal dari sinilah, akhirnya makam ini dikenal dengan Makam Sukun Nasrani yang kemudian kata makam berubah menjadi TPU. Sehingga, saat ini makam tersebut dikenal dengan TPU Sukun Nasrani Malang. *** [220516]

Kepustakaan:
http://www.pentalpha.nl/baroe/index.php/dcf-2/soekoen-begr-plaats
http://imexbo.nl/malang-soekoen-1.html
http://www.imexbo.nl/malang-sukun-speciaa.html

Selasa, 21 Februari 2017

Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta

Panti Wredha berasal dari gabungan dua kata, yaitu panti dan wredha. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), panti yang berasal dari bahasa Jawa tersebut, memiliki arti rumah, tempat atau kediaman. Sedangkan, wredha bermakna lanjut usia atau tua. Jadi, yang dimaksud dengan Panti Wredha adalah rumah atau tempat untuk mengurus dan merawat orang jompo yang terlantar.
Panti Wredha Dharma Bhakti merupakan tempat untuk mengurus dan merawat orang yang telah lanjut usia atau jompo. Panti Wredha ini terletak di Jalan Dr. Radjiman No. 620 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi panti ini berada di sebelah barat Pasar Jongke, atau tepatnya berada di samping SPBU Jongke.
Tak banyak warga Solo yang mengetahui riwayat dari bangunan Panti Wredha ini, padahal bangunan Panti Wredha ini sudah ada pada waktu Solo masih berbentuk kerajaan. Dulu, bangunan Panti Wredha ini dikenal dengan sebutan Griya Wangkung. Asal nama Wangkung tersebut berawal dari tafsiran di kalangan masyarakat sekitar, yang berasal dari kata wong terkungkung atau orang yang terkungkung atau terasing.
Tafsiran ini memang muncul karena ketika didirikan, bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat khusus untuk menampung penyandang masalah sosial. Mereka yang menyadang permasalahan kesejahteraan sosial atau pun bermasalah dalam kehidupan sosial, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat telah membuat tempat khusus untuk menampung mereka.


Kanjeng Raden Mas Haryo (K.R.M.H) Woerjaningrat dalam Pengetan Lelampahandalem K.R.A. Sosorodiningrat IV (1956) menyebutkan bahwa “Yasa griya miskin Wangkung, kangge ngopeni tiyang-tiyang ingkang papariman saha lare-lare ingkang mboten kopen; ing ngriku sami dipun sinau, sagedipun migunani kangge masyarakat” (Membuat Griya Miskin Wangkung, untuk memelihara orang-orang yang mengemis dan anak-anak yang tidak terurus; di situ mereka bisa belajar, agar supaya dapat berguna bagi masyarakat).
Griya Wangkung tersebut dibangun oleh Kanjeng Raden Adipati (K.R.A.) Sosrodiningrat IV, atas perintah Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) X, pada Tahun Dal 1839 (tahun Jawa) atau 1910 Masehi. K.R.A. Sosrodiningrat IV pernah menjabat sebagai Patih Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada masa bertahtanya PB IX dan PB X.
Setelah Indonesia merdeka, kewenangan pengelolaan dari Griya Wangkung dialihkan ke Pemerintah Kotamadia Dati II Surakarta, yang dalam hal ini Dinas Sosial. Setelah alih pengelolaan ini, bergantilah namanya menjadi Panti Karya Pamardi Karya (PKPK). PKPK mempunyai fungsi menjadi tempat menampung orang-orang gelandangan. Selanjutnya dengan dasar Surat Perintah Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah tertanggal 3 September 1977, dilakukan perubahan kembali baik nama maupun fungsinya. Panti ini dikhususkan untuk menampung orang-orang lanjut usia atau jompo yang terlantar, yang kemudian diberi nama Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.
Dalam perkembangannya, pada tahun 1993 keluarlah Keputusan Walikota Nomor 061.1/017/I/1993 tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Setelah adanya Keputusan Walikota tersebut, pembangunan Panti Wredha ini semakin gencar dilakukan. Mengingat panti ini mulai dikelola oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta, yang dalam hal ini dilakukan oleh Dinas Sosial meskipun dalam pendanaan Pemerintah Provinsi juga masih membantu.
Panti yang berdiri di atas lahan seluas 3.500 m² ini, sekarang tempat tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yaitu untuk lanjut usia Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta, untuk penyandang tuna netra dan tuna rungu wicara Panti Bhakti Chandrasa, dan untuk wanita tuna susila Panti Karya Wanita Utama.
Bangunan Panti Wredha ini sesuai historisnya, ditetapkan oleh Pemkot Surakarta melalui Keputusan Kepala Dinas Tata Ruang Kota Nomor 646/40/I/2014 sebagai bangunan yang dianggap telah memenuhi kriteria sebagai cagar budaya sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tetang Cagar Budaya. *** [170217]

Senin, 26 Desember 2016

Om Telolet Om

Perjalanan mengantar anak ke Pantai Parangtritis, memberikan pemandangan yang tengah menggejala belakangan ini. Sekelompok anak mengangkat tulisan ‘Om Telolet Om’ kepada setiap pengemudi bus pariwisata yang melintas di jalan tersebut. Ada juga yang mengacungkan jempol tangan sambil berteriak “Om Telolet Om”.
Memang, belakangan ini jagat dunia maya memang lagi dihebohkan oleh fenomena ‘Om Telolet Om’. “Om” yang berarti paman dan “telolet” adalah bunyi klakson multimedia pada bus antarkota dan antarprovinsi di Pulau Jawa yang kini digandrungi anak-anak hingga orang dewasa. Om telolet om merupakan ungkapan untuk meminta agar pengemudi bus membunyikan klakson melodi itu.
Sekelompok anak yang hendak melakukan aksi unik tersebut biasanya berdiri di pinggir jalan dengan berbekal kamera ponsel untuk merekam bus-bus yang memiliki suara klakson yang khas. Hasil rekaman ini kemudian diupload ke media sosial, sehingga menimbulkan demam om telolet om. Media sosial dengan mudah memopulerkan perilaku anak-anak di terminal dan jalan-jalan pedesaan pelosok Tanah Air ke meja penguasa dan pesohor dunia.
Mengglobalnya om telolet om tak terlepas dari kreativitas meramu konten bunyi dalam format musik remix. Nada melodis tersebut lebur dalam genre populer. Kemudian, kian tersebar setelah dikicaukan dalam akun Twitter sejumlah disc jockey (DJ) dunia, seperti DJ Snake, Yellow Claw, Marshmello, Zedd, dan The Chainsmokers.


Bila ditelusuri, fenomena unik ini bermuara kepada sebuah benda yang bernama klakson. Klakson merupakan sebuah alat mirip terompet yang dibunyikan dengan listrik pada mobil atau kendaraan bermotor lainnya. Klakson ini biasanya digunakan sebagai tanda peringatan akan keberadaan kendaraan tersebut.
Klakson pertama kali dibuat pada 1908 oleh Miller Reese Hutchison, yang masih mempunyai hubungan saudara dengan Thomas Alfa Edison.  Ia lahir di Montrose, Alabama pada 6 Agustus 1876. Ayahnya adalah William Hutchison dan ibunya bernama Tracie Elizabeth Magruder. Ia pernah menimba ilmu di Marion Military Instiute (1889-1891), Spring Hill College (1891-1892), University of Mobile Military Institute (1892-1895) dan lulus dari Universitas Auburn (yang kemudian disebut Institut Poliktenik Alabama) pada 1897. Ketika masih bersekolah, Hutchison banyak melakukan penemuan-penemuan, seperti lightning arrester untuk jalur telegraf pada 1895, alat bantu pendengaran (hearing aid), versi awal dari lampu lalu lintas (speed alarm) dan klakson.
Penemuan klakson ini diawali oleh rasa prihatin Hutchison ketika terjadi peningkatan lalu lintas di New York. Versi awal speed alarm bagi kendaraan dirasa tidak bisa diharapkan lebih manakala terjadi kepadatan lalu lintas. Oleh sebab itu, muncul gagasan untuk menciptakan sebuah perangkat peringatan ala musik mirip suara lonceng atau terompet. Dia menyadari bahwa suara yang lebih ‘menjengkelkan’ akan berfungsi sebagai peringatan yang lebih baik.
Suara khas dari klakson ketika ditekan berasal dari sebuah elektromagnet yang digunakan untuk menggerakkan baja spiral. Jika elektromagnet tersebut diberi arus, spiral bergerak ke arah magnet. Ketika spiral berpindah di titik maksimum ke arah magnet, sambungan dilepaskan yang menyebabkan arus berhenti untuk beberapa saat dan menyebabkan baja spiral tersebut mengendur. Setelah itu, elektromagnet kembali bergerak kea rah besi. Siklus ini terjadi berulangkali dan menyebabkan baja spiral berosilasi kembali yang menghasilkan suara klakson tersebut.
Hutchinson menjual lisensi paten temuannya tersebut kepada Lovell-McConnel Manufacturing Company, sebuah perusahaan suku cadang asal New Jersey, Amerika Serikat, dan dipasarkan dengan merek Klakson (Klaxon horn). Nama merek tersebut berasal dari bahasa Yunani, klazo yang berarti jeritan  (shriek). Di sebagian besar negara dalam bahasa sehari-hari mereka menyebutnya car horn. Di Rumania dan Belgia, mereka menyebutnya claxon, lalu di Perancis mereka menyebut klakson dengan ejaan klaxon.
Kemudian pada 1911, perusahaan tersebut mengembangkan klason buatannya dengan memakai tenaga baterai yang dapat diisi ulang. Sejak saat itu, klakson buatan perusahaan tersebut dijadikan standar oleh beberapa pabrik lain yang memproduksi klakson sejenis.
Kembali kepada fenomena om telolit om, sebenarnya secara filosofinya berasal dari suara klakson yang semula diciptakan Miller Reese Hutchinson. Namun seiring perkembangan teknologi, suara klakson semakin banyak variasinya dan banyak yang mirip dengan nada dering lagu. Ketika sopir bus memencet tombol klakson, lepaslah suara klakson dengan ragam durasi yang dimiliki oleh bus tersebut. Semakin lama, terdengarlah telolet …telolet … telolet! Jadilah sesuatu peristiwa yang sifatnya sangat lokal di Indonesia itu mendunia. *** [201216]

Jumat, 23 Desember 2016

Pabrik Gula Krebet Baru Malang

Pertama kali mendapat tugas di Kabupaten Malang, saya diajak oleh Principal Investigator berkunjung ke Gondanglegi melalui Bululawang dari Kota Malang. Dengan dikemudikan oleh sopir tua, mobil Kijang Innova melaju dengan kecepatan sedang. Sehingga, perjalanan pun menjadi mengasyikan. Saya pun bisa melihat kiri kanan dengan santainya.
Setelah lepas melewati Bululawang, perjalanan agak melambat karena jalan sedikit mulai menyempit dan arus lalu lintas pun sedang padat. Di tengah melambatnya laju mobil ini, saya pun bisa melihat pemandangan yang dilalui mobil. Sebuah kebetulan, usai melintas Pasar Krebet, saya sepintas berkesempatan memandang bangunan lawas nan luas dan megah di sebelah kiri jalan. Bangunan kuno tersebut bernama Pabrik Gula (PG) Krebet Baru. Pabrik gula ini terletak di Jalan Krebet – Srenggong No. 10 Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pabrik gula ini berada di sebelah selatan Pasar Krebet, atau tepatnya berada di pojokan lampu merah Krebet.
Beberapa bulan kemudian saya berusaha mengunjungi pabrik gula itu lagi, setelah melakukan monitoring ke Tim SMART Health Gondanglegi sambil bergerak menuju ke base camp Tim SMART Health Pakisaji. Kesempatan inilah yang menyebabkan saya bisa menurunkan sebuah tulisan mengenai riwayat PG Krebet Baru untuk diupload di Blog Kekunaan.


Setelah berakhirnya masa tanam paksa (Cultuurstelsel) pada tahun 1870, Pemerintah Hindia Belanda memberlakukan dua perundang-undangan, yaitu Undang-Undang Gula (Suikerwet) dan Undang-Undang Agraria (Agrarischewet). Kedua perundangan tersebut menghapus ketentuan Cultuurstelsel yang telah berlangsung selama 40 tahun, dan sekaligus dimulailah era baru yang dikenal dengan masa liberalisme. Zaman ini adalah digantikannya fungsi pemerintahan Hindia Belanda di bidang perekonomian oleh-modal-modal swasta. Kalangan swasta mendapat peluang untuk mengembangkan modal usaha pada sektor pertanian dan perkebunan.
Kawasan Malang yang memiliki lahan subur, sangatlah cocok untuk dikembangkan menjadi areal pertanian dan perkebunan, seperti kopi, teh, kina, sayuran dan tebu. Keberadaan perkebunan tebu yang luas di kawasan Malang ini menjadi pertimbangan untuk mendirikan pabrik gula (suikerfabriek). Pemerintah Hindia Belanda akhirnya mendirikan sejumlah pabrik di daerah Malang, diantaranya adalah PG Krebet (Suikerfabriek Krebet te zuiden van Malang). Pada 1906, PG Krebet dibeli oleh Oei Tiong Ham, seorang konglomerat Semarang, melalui NV Handel Maatschappij Kian Gwan (Perusahaan Dagang Kian Gwan, tinggalan ayahnya). Selain itu, Oei Tiong Ham juga membeli pabrik gula di Pakis, Rejogaung, Tanggulangin dan Ponen. Kelima pabrik gula tersebut akhirnya diserahkan pengelolaannya di bawah NV Algemeene Maatschappij tot Exploitatie Der Oei Tiong Ham Suikerfabrieken (Perusahaan Perseroan Gula Oei Tiong Ham), sebagai anak perusahaan dari NV Handel Maatschappij Kian Gwan, dengan berkantor pusat di Semarang.
Pabrik-pabrik yang sudah dibelinya tersebut, kemudian diperbaharui dengan mendatangkan mesin-mesin baru dari luar negeri berikut dengan teknisinya. Oei Tiong Ham selalu tanggap pada gagasan-gagasan baru. Secara periodik, ia mengirimkan orang keluar negeri untuk mempelajari metode produksi yang baru. Ia bukan saja mempekerjakan orang Tionghoa yang berbakat tetapi juga manajer-manajer dan ahli-ahli teknik orang Belanda. Para pemuda Tionghoa yang terpandai di Jawa dikirim ke Rotterdam dan Delf untuk dididik. Kemudian setelah pulang, ditempatkan pada pabrik-pabrik gula dan tapioka untuk membantu dalam elektrifikasi dan reorganisasi pabrik-pabrik tersebut. Cara membina tenaga baru ini mempunyai dua keuntungan, yaitu membina kesetiaan pada perusahaan dan memungkinkan pimpinan perusahaan untuk memilih pendidikan yang sesuai bagi ahli-ahlinya.
Hasilnya, kelima pabriknya memberikan kontribusi produksi gula yang cukup baik. Dengan memiliki total luas areal kurang lebih 17.500 acre atau 1.082 hektar untuk kelima pabrik gulanya tersebut, PG Krebet mampu memproduksi 21.000 ton per tahun Produksi PG Krebet tersebut menduduki nomor dua setelah PG Rejoagung (35.000 ton/tahun), kemudian disusul PG Tanggulangin (20.500 ton/tahun), PG Pakis (13.00 ton/tahun) dan PG Ponen (12.000 ton/tahun).
Dari hasil produski tersebut, kelima pabrik gula Oei Tiong Ham menjadi terdepan dalam hal penanaman maupun dalam peralatan teknisnya, sekaligus mampu memasok gula terbesar bagi seluruh Hindia Belanda. Pada awal abad ke-20 industri gula merupakan salah satu industri terpenting di Hindia Belanda. Pada masa itu, industri gula Jawa mampu menghasilkan ¾ dari ekspor Jawa secara keseluruhan dan telah menyumbang ¼ dari seluruh pendapatan di Hindia Belanda.
Penurunan industri gula (termasuk PG Krebet) terjadi setelah Perang Dunia (PD) I, tepatnya pada decade 1920-an pasar dunia kelebihan pasokan gula sebagai aikibat dari peningkatan produksi gula dari berbagai wilayah dan ditemukannya teknologi bit di Eropa dan Amerika. Keadaan ini kemudian diperparah lagi dengan munculnya depresi ekonomi pada tahun 1930-an. Akibatnya banyak sekali dampak yang diterima oleh PG Krebet ini, yaitu pengurangan produksi, pemutusan hubungan kerja dan pengurangan lahan tanam hingga PG Krebet sempat digadaikan kepada De Javasche Bank Malang untuk membantu dalam permodalan. Lalu, PG Krebet bisa berproduksi lagi.
Pada waktu terjadi Agresi Militer Belanda 1947, PG Krebet mengalami kerusakan yang cukup parah akibat pecah perang fisik antara pasukan Indonesia dan militer Belanda, sehingga pabrik tersebut tidak bisa beroperasi lagi untuk aktivitas produksi. Atas desakan dari Indonesia Maskapai Andal Koperasi Pertanian Tebu Rakyat Malang Selatan (IMA PETERMAS), maka pada tahun 1953 dilakukan pembangunan pabrik gula yang mengalami kerusakan kepada Kelompok Usaha Oei Tiong Ham (Oei Tiong Ham Concern) yang bekerjasama dengan Bank Industri Negara, dan atas izin bersyarat dari Kementerian Agraria kala itu, pada 3 Oktober 1954 pabrik gula tersebut mulai produksi lagi dengan nama NV PG Krebet Baru.
Selang tiga tahun kemudian, PG Krebet Baru sudah dapat memproduksi gula dengan kualitas Superior High Sugar (SHS) di mana semenjak pembangunan kembali tersebut baru mampu memproduksi gula High Sugar (HS). Seiring dengan adanya kebijakan dari Pemerintah Indonesia pada waktu itu, pada tahun 1961 semua perusahaan milik Oei Tiong Ham Concern (OTHC) yang berada di wlayah Indonesia diambil alih oleh Pemerintah Indonesia. Kegiatan perusahaan tetap berjalan di bawah pengawasan Menteri/Jaksa Agung RI. Kemudian pada tahun 1963, perusahaan dan pengelolaan atas harta kekayaan bekas OTHC diserahterimakan dari Menteri/Jaksa Agung RI kepada Menteri Urusan Pendapatan, Pembiayaan dan Pengawasan (P3), kemudian menjadi Departemen Keuangan RI.
Oleh Departemen Keuangan RI, pada tahun 1964 dibentuklah PT Perusahaan Perkembangan Ekonomi Nasional (PPEN) Rajawali Nusantara Indonesia, atau yang disingkat menjadi PT Rajawali Nusantara Indonesia, yang merupakan BUMN.
Pada tahun 1968, produksi PG Krebet Baru sudah mampu mencapai 1.600 Ton Cane Per Day (TCD). Dengan fasilitas pemerintah dalam rangka penanaman modal dalam negeri berupa perbaikan dan penggantian mesin yang sudah tua, maka kapasitas giling PG Krebet Baru ditingkatkan menjadi 2.000 TCD.
Pada tahun 1976, dibangun pabrik gula dengan nama PG Krebet Baru II untuk menggantikan pabrik gula yang lama. Namun, atas permintaan Gubernur Jawa Timur ketika itu, agar pabrik gula yang lama (PG Krebet Baru I) tetap dioperasikan, sehingga kapasitas produksi bisa menjadi 5.000 TCD.
Mulai tahun 1982, kapasitas giling PG Krebet Baru I sebesar 2.800 TCD sedangkan PG Krebet Baru II sebesar 3.600 TCD. Kemudian pada tahun 2009, kapasitas giling PG Krebet Baru I menjadi 6.500 TCD sedangkan PG Krebet Baru II menjadi 5.500 TCD, dan akan ditingkatkan sesuai dengan kondisi.
Selain masih berkesinambungannya proses produksi, PG Krebet Baru menyimpan riwayat pergulaan yang pernah berjaya di Hindia Belanda. Oleh sebab itu, melestarikan PG Krebet Baru sejatinya juga merawat warisan bangunan kuno yang ada di Kabupaten Malang (Malang Heritage). *** [290916]

Kepustakaan:
Apriliawati, Ningrum, 2010. Perkembangan Bisnis Gula Oei Tiong Ham di Jawa 1894-1924, dalam Skripsi di FIB UI
Wardana, Amri Eka, 2013. Dinamika Pabrik Gula Krebet Malang 1906-1957, dalam e-Journal Pendidikan Sejarah AVATARA Volume 1, No. 1, Januari
http://pgrajawali1.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=38&Itemid=80

Sabtu, 17 Desember 2016

Toko Avia Malang

Jalan Jaksa Agung Suprapto di Kota Malang, merupakan jalan dengan kelas arteri sekunder dengan panjang jalan 1366,988 meter dan lebar ruang milik jalan mencapai 21 meter. Pada masa kolonial, jalan ini lebih dikenal dengan nama Celaket, dan nama Celaket ini tiada duanya.
Koridor jalan ini memegang peranan yang penting dalam periode waktu yang telah berjalan. Karena, selain menghubungkan ke Surabaya, jalan ini juga menjadi salah satu saksi sejarah dari perkembangan Kota Malang. Makanya wajar, bila di sepanjang jalan banyak bertebaran bangunan lawas. Salah satunya adalah Toko Avia. Toko ini terletak di Jalan Jaksa Agung Suprapto No. 1B Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi toko ini berada di depan Mc Donald’s Kayutangan atau Hotel Trio Indah 2, dan tak jauh dari PT PLN Persero Area Malang.


Awalnya, Toko Avia ini merupakan salah satu toko yang bertempat di kompleks pusat perbelanjaan yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930. Pusat perbelanjaan tersebut diberi nama ‘Lux’ (winkelcomplex ‘Lux’). Di dalam kompleks pusat perbelanjaan tersebut, dulunya banyak toko yang menempati, seperti Toko Semarang yang kemudian berubah menjadi Toko Avia.
Keberadaan pusat perbelanjaan tersebut, kala itu tidak terlepas dari perkembangan pembangunan yang berada di Celaket. Pada masa kolonial, Celaket merupakan jalur poros Kotapraja (Gemeente) Malang, dan sekaligus tumbuh menjadi wilayah komersial dan perniagaan juga. Karena lokasinya yang strategis pada waktu itu, Toko Avia (dulu masih bernama Toko Semarang) menjadi salah satu jujukan bagi orang-orang Eropa untuk berbelanja. Kebetulan, lokasi yang pas berada di pertigaan di Kayutangan tersebut merupakan tempat pemberhentian dan berkumpulnya tentara Belanda. Mereka pada umumnya mengisi bekal dengan berbelanja di pusat perbelanjaan atau pertokoan ini.
Ketika masa pendudukan Jepang, toko ini masih tetap buka. Hanya saja, pembeli yang datang bukanlah dari kalangan orang Eropa melainkan para serdadu Jepang. Toko ini memang tergolong lengkap pada masa itu, dan yang berbelanja pun dari kalangan tertentu karena memang berada di kompleks pusat perbelanjaan yang mewah.
Bangunan Toko Avia ini tidak mengalami perubahan dalam fasadnya. Masih sama seperti pada waktu masa kolonial. Kalau pun ada renovasi, sebatas pada interiornya saja tanpa mengubah bentuk aslinya. Sebagai bangunan kuno, Toko Avia mempunyai sejarah yang panjang bagi Kota Malang dan menjadi salah satu landmark yang ada di kota tersebut. *** [280516]

Kamis, 15 Desember 2016

Apotek Kabupaten Malang

Menyusuri Jalan Basuki Rahmat, Anda akan menyaksikan beberapa bangunan lawas yang ada di Kota Malang. Jalan Basuki Rahmat ini, dulunya dikenal dengan Jalan Kayutangan (Kajoetanganstraat), yang merupakan salah satu kawasan bersejarah di Kota Malang. Semula merupakan lahan kosong yang luas, kemudian menjadi pemukiman orang Eropa yang yang bercorak kolonial, dan setelah itu berkembang menjadi koridor perdagangan dan pertokoan orang Belanda yang terkemuka di Malang pada waktu itu.
Salah satu tempat usaha bercorak kolonial yang masih bisa dilihat sampai sekarang adalah Apotek Kabupaten. Apotek ini terletak di Jalan Basuki Rahmat No. 11 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi apotek ini berada di sebelah utara Toko Oen, yang berdampingan dengan Telkom Kayutangan.


Bangunan Apotek Kabupaten ini, awalnya merupakan sebuah apotek (drogisterij) yang bernama De Rijzende Zon (Matahari Terbit) yang berdiri sekitar tahun 1930-an. Apotheek De Rijzende Zon dikenal dengan harga yang murah bila dibandingkan dengan apotek lainnya yang ada di Kayutangan karena menjualnya dengan harga grosir. Karyawan-karyawannya yang bertugas di apotek tersebut, terdapat beberapa etnis Tionghoa namun fasih berbahasa Belanda.
Di Kajoetanganstraat kala itu terdapat beberapa apotek. Selain Apotheek De Rijzenden Zon, juga terdapat NV Apotheek Malang (Malangsche Apotheek) maupun NV Apotheek de Salamander. Sehingga, persaingan antar apotek pun saat itu sudah berjalan dengan ketat.
Bangunan apotek yang berarsitektur Nieuw Bouwen tersebut, sampai sekarang masih berdiri. Hanya saja telah berganti nama menjadi Apotek Kabupaten. Semenjak bangunan ini didirikan sampai sekarang, peruntukkannya memang untuk apotek.
Apotek selain memiliki fungsi sosial sebagai tempat pengabdian dan pengembangan jasa pelayanan pendistribusian dan informasi obat perbekalan kesehatan, apotek juga mempunyai fungsi ekonomi yang mengharuskan suatu apotek memperoleh laba untuk meningkatkan mutu pelayanan dan menjaga kelangsungan usahanya.
Oleh karena itu sebagai upaya agar para apoteker pengelola Apotek Kabupaten dapat melaksanakan pelayanan kefarmasian yang profesional, senantiasa merujuk kepada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek. Adapun tujuan dikeluarkannya keputusan tersebut, adalah sebagai pedoman praktek apoteker dalam menjalankan profesi, melindungi masyarakat dari dari pelayanan yang tidak profesional serta melindungi profesi dalam menjalankan praktek. Dan, yang tak kalah pentingnya, pihak pengelola Apotek Kabupaten juga mampu mempertahankan bangunan lawas yang menjadi tempat usahanya. *** [280516]