Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Rabu, 26 Juli 2017

Stasiun Kereta Api Jombang

Stasiun Kereta Api Jombang (JG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Jombang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 43 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Basuki Rahmat No. 1, Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di selatan alun-alun Jombang.
Bangunan Stasiun Jombang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Sidoarjo-Mojokerto-Sembung. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1880 dan selesai pada tahun 1881 oleh Staatsspoorwegen (SS) perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, sepanjang 64 kilometer yang merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen atau State Railway Eastern Lines (lintas timur).
Dilihat dari fasadnya, stasiun ini mengalami beberapa perubahan sehingga kesan kolonialnya sudah memudar. Perubahan ini terjadi karena adanya penambahan-penambahan sebagai konsekuensi stasiun ini menjadi sebuah stasiun kelas besar. Namun demikian, bila kita sudah berada di dalam stasiun, jejak kolonial dari stasiun ini masih bisa dijumpai, seperti bangunan emplasemennya dan bangunan pendukung lainnya yang berada di selatan rel kereta api.
Stasiun ini memiliki 9 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah barat menuju Stasiun Sembung dan arah timur menuju Stasiun Peterongan. Jalur lainnya digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini maupun maintenance gerbong kereta api yang mengalami kerusakan.
Dulu, dari stasiun ini terdapat percabangan jalur menuju Pare hingga Kediri yang menuju ke selatan, dan Ploso hingga Babat ke arah utara. Pembangunan kedua jalur dilakukan oleh dua perusahaan kereta api swasta lainnya, yaitu Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) dan Babat-Djombang Stoomtram Maatschappij (BDSM). KSM adalah perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda yang mendapat konsesi pada tahun 1894 untuk membangun jalur kereta api ke seputaran Jombang dan Kediri, sedangkan BDSM adalah perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda yang mendapat konsesi pada tahun 1896 untuk membangun jalur kereta api di seputaran Jombang dan Lamongan.
Percabangan yang ke arah selatan terhubung dengan jalur 9, dan KSM pun mendirikan stasiun (Stasiun KSM) di selatan Stasiun Jombang. Sedangkan, percabangan yang ke arah utara terhubung dengan jalur 1, dan percabangannya berada di sebelah timur Stasiun Jombang.
KSM mulai membangun jalur Jombang – Pulorejo – Pelem – Gurah – Pesantren - Kediri sepanjang 50 kilometer pada tahun 1897. Dari jalur ini kemudian bercabang menjadi beberapa jalur lagi, seperti jalur Pesantren-Wates (1897) sepanjang 14 kilometer, jalur Pelem-Papar (1898) sejauh 14 kilometer, jalur Pare-Semanding-Kepung (1898) dengan panjang 12 kilometer, jalur Pulorejo-Ngoro-Kandangan-Kunto (1898-1899) sepanjang 13 kilometer, dan jalur Gurah-Jenkal-Brenggolo-Kawarassan (1898) sejauh 9 kilometer. Tak hanya itu, KSM pun juga menyambungkan ke beberapa jalur lagi dari percabangan yang lainnya, yaitu jalur Semanding-Kencong-Kunto (1899) sepanjang 9 kilometer, dan jalur Brenggolo-Plosoklaten (1900) sejauh 1 kilometer.
Sedangkan, BDSM membangun jalur Jombang-Jombangkota-Jombangpasar (1898-1899) sepanjang 3 kilometer. Kemudian dari Jombang Kota dilanjutkan ke jalur Dolok-Ploso-Kabuh-Ngimbang-Bluluk-Dradah-Babat sepanjang 32 kilometer, yang pembangunannya dimulai pada tahun 1899 dan selesai pada tahun 1902. Dari Ploso juga terhubung dengan PG Ponen pada tahun 1913 sejauh 2 kilometer, dan juga terhubung dengan jalur Krian-Gempolkerep-Ploso yang dibangun oleh Staatsspoorwegen.
Meski jalur yang dibangun oleh BDSM merupakan jalur yang strategis, akan tetapi pengelolaan jalur Jombang- Dolok-Ploso-Kabuh-Ngimbang-Bluluk-Dradah-Babat mulai mengalami kerugian setelah memasuki 20 tahun berjalan. Untuk menutup kerugian tersebut, pada 1903 BDSM menyewakan sebagian asetnya kepada Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) selama 15 tahun dengan nilai kontrak 250.000 gulden.
Jadi, bisa dibayangkan betapa ramainya Stasiun Jombang pada waktu itu. Selain berada di lintasan utama milik Staatsspoorwegen, Stasiun Jombang juga terhubung dengan sejumlah daerah yang di sebelah selatan dan utaranya berkat KSM dan BDSM. Namun sayang, jalur kereta api yang dibuat oleh KSM dan BDSM sudah tidak aktif lagi untuk saat ini. *** [260717]

Klenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro

Sewaktu pulang dari Surabaya menuju Solo dengan mengendarai sepeda motor Honda Supra X dengan nopol AD 5027 CS, saya berkesempatan mampir dan sekaligus melepas lelah sejenak di sebuah klenteng yang berada di pinggir jalan besar. Klenteng tersebut bernama Klenteng Hok Yoe Kiong.  Klenteng Hok Yoe Kiong merupakan tempat peribadatan umat Tridharma, yaitu Konghucu, Buddha dan Tao). Klenteng ini terletak di Jalan Raya Sukomoro No. 2, Desa Sukomoro, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada di depan Stasiun Sukomoro.
Keberadaan klenteng ini tidak lepas dari peran pendirinya yang bernama Soen Boen Lee dari Kota Nganjuk. Sebagai seorang Tionghoa, ia membuat sebuah tempat pemujaan bagi Kongco Tik Tjoen Ong di rumahnya. Patung Kongco Tik Tjoen Ong dibawa ke Nganjuk dari Negeri Tiongkok sekitar tahun 1930-an. Seiring perjalanan waktu, rumahnya menjadi ramai karena begitu banyak warga Tionghoa yang ikut bersembahyang sehingga lama-lama tempat untuk sembahyang tersebut sudah tidak mencukupi lagi.


Soen Boen Lee kemudian membangun sebuah klenteng di atas tanah miliknya yang berada di daerah Sukomoro, sekitar 5 kilometer timur Kota Nganjuk arah Kertosono, pada tahun 1953. Setelah selesai, klenteng tersebut mulai digunakan untuk melakukan sembahyang tetapi klenteng tersebut belum diresmikan. Baru pada tahun 1956, klenteng tersebut diresmikan, dan diberi nama Hok Yoe Kiong.
Seperti bangunan klenteng pada umumnya, klenteng ini memiliki pintu gerbang atau gapura yang cukup megah yang didominasi warna merah. Di atasnya terdapat ornamen khas Tionghoa, yaitu huo zhu (mutiara api milik Sang Buddha) yang diapit oleh dua xing long (naga yang sedang berjalan). Pintu gerbang tersebut dikenal dengan men lou wu, yang artinya pintu gerbang untuk masuk ke dalam persil atau lahan.
Usai melewati men lou wu, pengunjung akan berada di halaman klenteng tersebut. Di halaman tersebut terdapat dua buah pagoda yang bernuansakan Buddhisme di sebelah kiri dan kanan halaman. Pagoda tersebut sebenarnya merupakan miniatur tempat untuk penympanan relik Buddha, namun di sejumlah klenteng yang pernah saya singgahi, pagoda tersebut acapkali digunakan untuk tempat pembakaran kim cua (kertas berwarna keemasan).


Setelah melintas halaman, pengunjung bisa melangkahkan kaki lagi menuju bangunan utama klenteng. Tepat di muka kleteng, pengunjung akan menjumpai sepasang singa yang terbuat dari batu. Patung singa tersebut disebut shi zi.
Menjelang pintu masuk bangunan utama klenteng, pengunjung akan melihat hiolo,  sebuah bejana berwarna kuning yang digunakan untuk menancapkan dupa persembahan (hio) kepada Thian (Tuhan Yang Maha Esa). Kemudian setelah melewati itu semua, barulah pengunjung akan berada di bangunan utama klenteng tersebut. Bangunan klenteng ini terbagi atas 4 bangunan utama yang terdiri dari 11 altar untuk sembahyang.
Di atas altar tersebut ditempatkan para Dewa. Dewa atau sesembahan utama di Klenteng Hok Yoe Kiong ini adalah Kongco Kong Tik Tjoen Ong, yang kemudian disusul dengan dewa-dewa lainnya secara berurutan setelah dewa utama, yaitu Kongco Kwan Seng Tee Koen, Kongco Ka Lam Yakon dan Hian Thian Siang Tee, Kongco Hok Tik Tjin Sing, Kongco Houw Ya Kong, Kongco Kwam Im Po Sat, Kongco Buddha Sakyamuni, Kongco Thai Sang Laocin, Kongco Khonghucu, dan Kongco Hia Ong.
Klenteng Hok Yoe Kiong ini tidak terlalu besar, akan tetapi klenteng ini memiliki keunikan yang tidak terdapat pada klenteng lainnya di Indonesia. Pasalnya, di klenteng ini terdapat sarang semut hitam yang umurnya lebih tua dari bangunan klenteng, yang tingginya mencapai dua meter, dengan diameter mencapai dua setengah meter. Para penganut Tridharma, sarang semut ini dijuluki sebagai Dewa Semut atau Hia Ong. *** [260714]

Selasa, 25 Juli 2017

Stasiun Kereta Api Sembung

Stasiun Kereta Api Sembung (SMB) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sembung, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 47 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun yang lokasinya paling barat di Kabupaten Jombang. Stasiun ini terletak di Jalan Raya Perak, Desa Sembung, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di selatan Pegadaian Sembung, atau timur BPR Bank Jombang ± 200 m.
Bangunan Stasiun Sembung ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Sidoarjo-Mojokerto-Sembung. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1880 dan selesai pada tahun 1881 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, sepanjang 64 kilometer yang merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen atau State Railway Eastern Lines (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 3 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah barat menuju Stasiun Kertosono dan arah timur menuju Stasiun Jombang. Jalur 1 dan 3 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini. Sedangkan, di sebelah timur bangunan stasiun terlihat sisa jalur badug atau buntu.
Kendati Stasiun Sembung merupakan stasiun kelas III atau kecil, namun masih beruntung bahwa di stasiun tersebut masih tampak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang. *** [250717]

Kori Kamandungan

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memiliki luas sekitar 54 hektar yang dimulai dari alun-alun utara sampai dengan alun-alun selatan. Saking luasnya, di dalam kompleks Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat terdapat beberapa kori yang berada di sejumlah tempat dengan segala makna filosofisnya. Salah satu kori yang ada tersebut adalah Kori Kamandungan. Kori Kamandungan ini terletak di Jalan Sasono Mulyo, Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi kori ini berada di sebelah selatan Kori Brajanala Lor, atau diapit oleh dua garasi.
Kori yang dibangun oleh Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mempunyai makna pandangan dan sikap hidup yang diharapkan oleh kraton.  Kori Kamandungan berasal dari gabungan dua kata, yaitu kori dan kamandungan. Kori adalah akses di batas kategori ruang publik dengan kategori ruang pribadi individual atau komunal bangsawan, dalam variasi wujud celah atau lubang tanpa atap, lubang beratap, atau ruangan beratap dengan dinding berlubang pembagi ruangan, atau dalam bahasa yang sederhana, kori itu berarti pintu (gate). Sedangkan, kamandungan berasal dari kata mandhung yang berarti berhenti (sesaat). Melewati gerbang pelataran Kamandungan dan menapaki Balerata menuju Kori Kamandungan bermakna laku batin sampai pada bagian prosesi Panembah (Andhung).


Di Kamandungan terdapat cermin besar untuk bercermin sebelum masuk kraton atau istana. Secara lahiriah, hal tersebut dimaksudkan agar siapa pun yang akan masuk ke dalam kraton berhenti sejenak untuk bercermin, atau mengoreksi apakah pakaian yang dikenakan sudah cukup pantas untuk masuk ke dalam kraton. Secara batiniah, mengingatkan agar manusia hendaknya selalu bercermin akan tingkah laku dan perbuatan serta menjaga kesucian hati. Sikap yang demikian ini memunculkan ungkapan mulat sarira hangrasa wani, yang berarti tanggap diri apakah pantas, bersih, rapi bertatakrama dalam ‘berbusana’ (agama ageing aji) untuk menghadap Sang Pencipta.


Dulu, setibanya seseorang di Kori Kamandungan harus berhenti dahulu untuk mengingat-ingat atau mengoreksi perbuatan/perilakunya sendiri (introspeksi). Jika merasa salah atau keliru perbuatannya, hendaknya harus segera minta ampun (bertaubat) dan bersyukur bilamana menerima rahmat dari Sang Pencipta.
Kori Kamandungan merupakan bangunan terdepa dari kraton bagian dalam yang dibangun oleh Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) IV pada 10 Oktober 1819, namun belum sampai selesai, PB IV wafat. Akhirnya, bangunan gerbang utama Kamandungan dilanjutkan pembangunannya oleh PB V. Kemudian direnovasi oleh PB X pada tahun 1889.
Kamandungan juga menjadi tempat para abdi dalem yang mandung (jaga, di luar dan di dalam), dan sekaligus sebagai tempat menghadapnya abdi dalem Jajar Mandung golongan Keparak. Kori ini mempunyai skala yang besar. Hal ini untuk menunjukkan kewibawaan raja, keagungan kraton, dan kemegahan kraton. Selain itu, juga untuk memunculkan rasa hormat kepada kraton.
Kori Kamandungan ini memiliki tiga pintu, yaitu Kori Kamandungan bagian timur, bagian tengah, dan bagian barat. Kori Kamandungan bagian barat dan bagian timur mempunyai lengkung di atas daun pintu, dan masing-masing kori tersebut ukuran lebar yang berbeda-beda. Kori Kamandungan bagian timur memiliki ukuran 2,10 m, Kori Kamandungan bagian tengah berukuran 2,67 m, dan Kori Kamandungan bagian barat mempunyai ukuran 2,30 m.
Fungsi Kori Kamandungan sebagai pintu utama terdepan yang menghubungkan Kedaton dengan luar Kedaton, melalui ruang antara yaitu halaman Sri Manganti, dan sekaligus sebagai pintu penghubung bangsal sisi barat dan sisi timur halaman Sri Manganti dengan halaman Kamandungan. *** [240617]

Stasiun Kereta Api Sukomoro

Stasiun Kereta Api Sukomoro (SKM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sukomoro, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 50 m di atas permukaan laut. Stasiun Sukomoro terletak di Jalan Raya Kertosono-Nganjuk, Desa Sukomoro, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di depan Klenteng Hok Yoe Kiong.
Bangunan Stasiun Sukomoro ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kertosono-Nganjuk-Madiun. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1881 dan selesai pada tahun 1882 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, sepanjang 69 kilometer yang merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen atau State Railway Eastern Lines (lintas timur).
Semula Stasiun Sukomoro ini hanyalah sebuah halte kereta api saja, namun seiring perjalanan waktu halte tersebut kemudian mengalami sejumlah renovasi hingga menjadi sebuah bangunan stasiun kecil yang ada di Kabupaten Nganjuk. Dilihat dari bangunannya, stasiun ini sudah terlalu terlihat jejak kolonialnya kecuali beberapa peralatan yang berkaitan dengan perkeretaapiannya.
Stasiun ini memiliki 3 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah barat menuju Stasiun Nganjuk dan arah timur menuju Stasiun Baron. Jalur 1 dan 3 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Stasiun Sukomoro merupakan stasiun kelas III atau kecil. Karena letak dekat dengan Stasiun Ngajuk, yaitu sekitar 4,5 kilometer, stasiun ini hanya difungsikan untuk persilangan dan persusulan antarkereta api saja. *** [230717]

Minggu, 23 Juli 2017

Stasiun Kereta Api Barat

Stasiun Kereta Api Barat (BAT) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Barat, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 70 m di atas permukaan laut. Stasiun Barat terletak di Jalan Stasiun Barat, Desa Karangsono, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur laut Kantor Pos Kecamatan Barat ± 400 m, atau di sebelah barat SMP Negeri 2 Barat ± 250 m.


Bangunan Stasiun Barat ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur rel kereta api Madiun-Paron-Sragen-Solobalapan. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, sepanjang 97 kilometer. Kemudian, stasiun ini mengalami renovasi pada tahun 1930-an seiring makin ramainya aktivitas di stasiun tersebut pada waktu itu.


Stasiun ini memiliki 4 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah barat (Stasiun Geneng) dan timur (menuju Stasiun Madiun). Jalur 3 dan 4 digunakan sebagai jalur untuk persilangan atau persusulan antarkereta api yang melintas stasiun tersebut. Demikian juga dengan jalur 1, selain berfungsi sebagai tempat memarkir kereta api ketika terjadi persusulan atau persilangan antarkereta api juga untuk menaikkan maupun menaikkan penumpang.
Dulu, dari jalur 1 ini terhubung dengan jalur lori (decauvile) milik PG Purwodadi sepanjang sekitar 4,5 kilometer untuk mengangkut tebu dan gula, dan ada juga jalur rel yang terhubung ke Landasan Udara Iswajud pada tahun 1939. Jalur ini digunakan untuk memasok bahan bakar pesawat kala itu.
Meski tergolong stasiun kelas II, Stasiun Barat yang merupakan satu-satunya stasiun di Kabupaten Magetan ini masih terdapat aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang. Layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini meliputi kereta api kelas eksektuif, kelas campuran, kelas ekonomi AC premium, dan kelas ekonomi AC plus. *** [260617]

Stasiun Kereta Api Nganjuk

Stasiun Kereta Api Ngajuk (NJ) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ngajuk, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 56 m di atas permukaan laut. Stasiun Ngajuk terletak di Jalan Panglima Besar Sudirman, Desa Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Sate Ayam Ponorogo Pak Boyadi ± 50 m.
Bangunan Stasiun Ngajuk ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kertosono-Nganjuk-Madiun. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1881 dan selesai pada tahun 1882 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, sepanjang 69 kilometer yang merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Dilihat dari fasadnya, bangunan stasiun ini sudah tidak menampakkan sebuah bangunan lawas peninggalan kolonialnya lantaran dilakukan renovasi dengan penambahan teras di depan pintu masuk utamanya. Peninggalan kolonialnya masih bisa dijumpai pada struktur emplasemen beserta atapnya. Selain itu, bangunan lain pendukung di stasiun tersebut yang masih memperlihatkan kekolonialnya adalah bangunan yang digunakan untuk kantor distrik jalan rel yang berada di samping bangunan utama stasiun
Stasiun ini memiliki 4 jalur dengan jalur 3 sebagai sepur lurus arah barat menuju Stasiun Bagor dan arah timur menuju Stasiun Sukomoro. Jalur 1, 2 dan 4 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Stasiun Bagor merupakan stasiun kelas I yang ada di Kabupaten, oleh karena itu terlihat ramai akan aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang kereta api. Layanan kereta api yang terdapat di stasiun ini meliputi kereta api kelas eksekutif, kelas campuran, kelas ekonomi AC premium, kelas ekonomi AC plus, dan kelas ekonomi AC. *** [230717]