Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Senin, 17 April 2017

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

Tanggal 1 April 2017, saya mendapat undangan diskusi dari Medang Heritage Society (MHS) di Ruang Seminar Agus Dwiyanto, Gedung Masrisingarimbun, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Usai diskusi, saya mencoba melakukan jalan kaki dari PSKK menuju ke Stasiun Yogyakarta. Tujuannya, selain melemaskan otot-otot di badan juga melihat-lihat bangunan lawas yang ada di Yogyakarta di antaranya adalah Rumah Sakit (RS) Panti Rapih.
Rumah sakit ini terletak di Jalan Cik Di Tiro No. 30 Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi rumah sakit ini berada di tenggara bundaran UGM atau sebelah barat SPBU Pertamina 44.552.12.
Berdasarkan papan nama yang dipasang oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, diketahui bahwa bangunan RS Panti Rapih merupakan bekas bangunan Onder de Bogen Hospitol. Berawal dari pembentukan yayasan Onder de Bogen (Onder de Bogen Stichting) oleh pengurus Gereja Yogyakarta, kemudian diteruskan untuk mendirikan sebuah rumah sakit dengan meminta bantuan kepada Suster-suster Carolus Borromeus yang berpusat di Maastricht Belanda.


Peletakan batu pertama dilakukan oleh Nyonya C.T.M. Schmutzer van Rijckevorsel pada tanggal 14 September 1928. Nyonya C.T.M. Schmutzer van Rijckevorsel adalah istri Ir. Julius Robert Anton Marie Schmutzer, seorang administratur onderneming Gondang Lipoero Ganjuran Bantul, dan juga pernah menjadi murid sekolah perawat yang dikelola oleh Suster Carolus Borromeus di Belanda.
Pembangunan rumah sakit ini dapat diselesaikan pada pertengahan Agustus 1929, dan pada tanggal 24 Agustus 1929 Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen, SJ berkenan memberkati bangunan rumah sakit tersebut. Kemudian pada tanggal 14 September 1929 rumah sakit dibuka secara resmi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dengan nama Rumah Sakit Onder de Bogen.
Sesuai namanya, bangunan rumah sakit ini banyak dihiasi dengan lengkungan-lengkungan (bogen). Lengkungan-lengkungan ini yang menjadi kekhasan dari bangunan rumah sakit tersebut. Bangunan rumah sakit ini dirancang oleh seorang arsitek bernama Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels dari Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA).
Para suster melayani dan merawat orang sakit, meringankan penderitaan sesama sesuai dengan ajaran Injil tanpa memandang agama dan bangsa. Sedikit demi sedikit penderita datang dan semakin lama semakin bertambah dan meningkat jumlahnya. Pasiennya sebagian besar adalah para pejabat Belanda dan kerabat Kraton. Sultan Hamengku Buwono VIII menjelang wafatnya juga pernah dirawat di rumah sakit ini.
Pada tahun 1942 Jepang datang ke bumi Nusantara untuk mendudukinya, tak terkecuali Yogyakarta. Pada masa pendudukan inilah, RS Onder de Bogen tidak luput dari penguasaan Jepang. Para Suster Belanda diinternir dan dimasukkan ke kamp tahanan Jepang. Akibatnya, pengelolaan rumah sakit menjadi kacau balau. Pemerintah Jepang menghendaki agar segala sesuatu yang berbau Belanda untuk dihilangkan, termasuk salah satunya penggantian nama rumah sakit ini. Akhirnya, rumah sakit ini diberi nama baru “Rumah Sakit Panti Rapih”, yang berarti Rumah Penyembuhan oleh Mgr. Albertus Soegijopranoto, SJ (Uskup pada Keuskupan Semarang).
Setelah Indonesia merdeka, para pejuang kemerdekaan semasa Revolusi Nasional dirawat di rumah sakit ini termasuk Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia Jenderal Sudirman. Pada waktu dirawat di rumah sakit ini, beliau pernah menuliskan sebuah sajak yang berjudul “Rumah nan Bahagia”, yang hingga kini masih tersimpan dengan baik.
Kini, RS Panti Rapih berkembang menjadi rumah sakit swasta Katolik yang terkemuka di Kota Yogyakarta, dengan pelayanan dan pengelolaan yang modern. *** [150417]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Minggu, 16 April 2017

Stasiun Kereta Api Kalasan

Stasiun Kereta Api Kalasan (KLS) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Kalasan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 126 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kereta api yang letaknya paling timur di Daerah Istimewa Yogyakarta. Stasiun ini terletak di Jalan Raya Yogya – Solo Km 13, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan SD Kanisius ± 500 meter, atau sebelah barat daya Candi Kalasan ± 1,4 kilometer.
Bangunan Stasiun Kalasan ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Solobalapan-Yogyakarta yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik swasta di Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscahppij (NIS) pada tahun 1872 sebagai lanjutan dari proyek jalur Semarang-Vorstenlanden. Jalur sepanjang 58 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Solo di sebelah timur laut menuju ke Yogyakarta di sebelah barat daya.


Jalur Solobalapan-Yogyakarta ini akhirnya diambilalih oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, dan dilakukan pembenahan pada tahun 1929.  Semula bangunan stasiunnya masih cukup sederhana, namun pada saat diambilalih Staatsspoorwegen (SS), stasiun ini dilakukan renovasi dan bentuk bangunannya masih bertahan hingga sekarang.
Stasiun ini memiliki 3 jalur dengan jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus, menuju ke Stasiun Maguwo ke arah barat dan menuju ke Stasiun Brambanan ke arah timur. Sedangkan jalur 3, dulu digunakan sebagai persilangan kereta atau persusulan antarkereta.


Stasiun Kalasan merupakan stasiun kelas III atau kecil, dan sayang stasiun ini sudah tidak beroperasi lagi atau non aktif semenjak tahun 2007 atau setelah diresmikannya jalur ganda Solo-Kutoarjo, karena seluruh sistem wesel dan persinyalannya telah dicabut. Ketika Kekunaan melintas dengan KA Prameks, terlihat kumuh. Dinding-dindingnya banyak coretan dari cat semprot akibat ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab atau aksi vandalisme.
Alangkah baiknya, bangunan stasiun ini tetap difungsikan meski segala persinyalannya telah dicabut. Pemanfaatannya tentunya tidak sebagai stasiun lagi, melainkan bisa dijadikan sebagai museum. Ditinjau dari sisi historis dan arsitekturalnya, bekas bangunan Stasiun Kalasan ini merupakan bagian dari sejarah perkeretaapian yang ada di Pulau Jawa, dan daripada rusak atau dijarah oleh orang tak bertanggung jawab untuk menjadi tempat tinggal.
Seandainya menjadi museum, lokasi bekas bangunannya terjangkau dan berdekatan dengan objek wisata lainnya yang berada di sekitarnya, seperti Candi Kalasan dan Candi Sari. Sungguh amat sangat disayangkan jika bekas bangunan stasiun ini tetap dibiarkan mangkrak. *** [150417]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Stasiun Kereta Api Brambanan

Stasiun Kereta Api Brambanan (BBN) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Brambanan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 146 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kereta api yang letaknya paling barat di Kabupaten Klaten. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Brambanan, Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan perempatan lampu merah Stasiun Brambanan (Bangjo Stasiun Brambanan).


Bangunan Stasiun Brambanan ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Solobalapan-Yogyakarta yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik swasta di Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscahppij (NIS) pada tahun 1872 sebagai lanjutan dari proyek jalur Semarang-Vorstenlanden. Jalur sepanjang 58 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Solo di sebelah timur laut menuju ke Yogyakarta di sebelah barat daya.
Jalur Solobalapan-Yogyakarta ini akhirnya diambilalih oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, dan dilakukan pembenahan pada tahun 1929.  Semula bangunan stasiunnya masih kecil dan sederhan, namun pada saat diambilalih Staatsspoorwegen (SS), stasiun ini dilakukan renovasi menjadi seperti sekarang bentuk bangunannya.


Ketika Yogyakarta terjadi gempa bumi tektonik pada 27 Mei 2006, stasiun ini juga turut terkena guncangannya yang mengakibatkan terjadi kerusakan berat. Namun masih beruntung, bangunan stasiun tersebut masih direkonstruksi sesuai bangunan aslinya.
Stasiun ini memiliki 4 jalur dengan jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus, menuju ke Stasiun Kalasan ke arah barat dan menuju ke Stasiun Srowot ke arah timur laut. Jalur 3 digunakan sebagai persilangan kereta atau persusulan antarkereta, sedangkan jalur 4 difungsikan sebagai jalur parkir kereta barang.
Stasiun Brambanan merupakan stasiun kelas III atau kecil, dan saat ini melayani bongkar muat semen serta disinggahi KA Prameks semenjak 20 Juni 2016. Sehingga, masih beruntung masih terdapat aktivitas untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang dan barang. Akan tetapi bila dilihat dari lokasinya yang berada di kawasan pariwisata dunia, sangat disayangkan bila ada aktivitas bongkar muat semen yang dilakukan oleh KA Semen Tigaroda dan KA Semen Arjawinangun.
Alangkah baiknya, jika Stasiun Brambanan ini hanya dikhususkan untuk penumpang saja, dan lebih baik lagi juga dipikirkan untuk mengembangkan stasiun ini sebagai stasiun wisata juga, mengingat banyaknya lokasi candi yang berada di sekitarnya, seperti Candi Sojiwan, Kompleks Candi Perambanan, Candi Plaosan maupun Kraton Boko. *** [150417]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Sabtu, 15 April 2017

Stasiun Kereta Api Grati

Stasiun Kereta Api Grati (GI) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Grati, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 16 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III alias stasiun kecil. 

  

Stasiun ini terletak di Desa Ranu Klindungan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah utara Loka Penelitian Sapi Potong Grati, atau sebelah selatan MADIN Miftahul Ulum Nguling.


Bangunan Stasiun Grati ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini diperkirakan bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Pasuruan-Probolinggo-Klakah yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, dari tahun 1884 hingga tahun 1895. Jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (oosterlijnen) sepanjang 74 kilometer. Pengerjaannya dimulai dari Pasuruan menuju Probolinggo yang selesai pada tahun 1884, selang sepuluh tahun barulah dilanjutkan pengerjaannya dari Probolinggo menuju Klakah yang selesai pada tahun 1895.
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus, yang ke arah barat menuju Stasiun Rejoso dan yang ke timur menuju Stasiun Bayeman. Sedangkan, jalur 2 digunakan sebagai persilangan atau persusulan antarkereta api. Stasiun ini tergolong sepi karena pada saat ini tidak ada aktivitas untuk menaikan maupun menurunkan penumpang.  *** [120916]

Foto: Riyan Hidayat

Rabu, 12 April 2017

Stasiun Kereta Api Sengon

Stasiun Kereta Api Sengon (SN) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sengon, merupakan salah satu stasiun kereta api kecil atau kelas III yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Surabaya yang berada pada ketinggian + 312 m di atas permukaan laut. Stasiun Sengon terletak di Jalan Stasiun Sengon Agung, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat Toserba Sengon Agung ± 850 meter.
Stasiun Sengon ini dibangun oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api Bangil-Sengon-Lawang-Malang sepanjang 49 kilometer. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1878 dan selesai pada tahun 1879.


Dulu, dari Stasiun Sengon ini terdapat sebuah percabangan jalur kereta api menuju jalur trem di Purwosari (Pasar Alkmaar) sepanjang 3 kilometer. Jalur percabangan ini dibangun oleh Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (PsSM) pada tahun 1900. PsSM adalah sebuah perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda di Pasuruan yang bergerak di bagian trem untuk mengangkut hasil bumi berupa tebu, teh maupun komoditas perkebunan lainnya. Didirikan pada tahun 1895, setelah pada tahun 1891 konsesi diberikan kepada J.A. Boulet, yang kemudian diambilalih pada tahun 1892 oleh D. Mournier. Pembukaan jalur rel pertama yang dikerjakan oleh PsSM pada tahun 1896, yaitu jalur Pasuruan-Warungdowo.


Setahun sebelumnya yaitu pada tahun 1895 PsSM juga telah mendapat konsensi dari Pemerintah Hindia Belanda untuk membangun jalur trem uap Warungdowo-Bekasi. Kemudian satu tahun berikutnya mendapat konsesi pembangunan jalur trem Warungdowo-Sengon melalui Pasar Alkmaar. Pembangunan jalur ini dilakukan secara bertahap. Dimulai dari jalur Warungdowo-Wonorejo sepanjang 11 kilometer pada tahun 1899, terus jalur Wonorejo-Bakalan sepanjang 12 kilometer pada tahun itu juga. Lalu, diteruskan dengan jalur Bakalan-Purwosari (Pasar Alkmaar) sepanjang 3 kilometer pada tahun 1900, dan pada tahun itu juga disambungkan ke Sengon. Akan tetapi sayang, jalur rel trem yang dibangun oleh PsSM tersebut semenjak 1933 sudah tidak aktif lagi karena mengalami kerusakan (opgebroken).
Stasiun yang terletak paling selatan di Kabupaten Pasuruan ini, memiliki 3 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Sukorejo, dan yang ke selatan menuju Stasiun Lawang. Di stasiun ini tidak terlihat aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang sehingga setiap kereta yang melintas jalur ini tidak berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi persilangan antar kereta api. Jadi, suasananya terlihat sepi setiap harinya. Namun demikian, nama stasiun sempat menjadi dikenal lantaran pada tanggal 14 Juli 2008 sekitar pukul 13.44 WIB terjadi tabrakan antara KA 3519 dengan Lokomotif BB 30121 di Km 20+938 emplasemen Sengon. *** [090417]

Foto: Slamet Hariono

Selasa, 11 April 2017

Stasiun Kereta Api Pekalongan

Stasiun Kereta Api Pekalongan (PK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Pekalongan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang yang berada pada ketinggian + 4 m di atas permukaan lain. Stasiun Pekalongan terletak di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Bendan, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Hotel Syariah atau Hotel Damai.
Bangunan Stasiun Pekalongan ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur trem uap Semarang-Kaliwungu-Kendal-Kalibodri-Weleri-Pekalongan. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1897 dan selesai pada tahun 1898 oleh Semarang-Cheribon Stoomtram-Maatschappij (SCS). SCS merupakan salah satu perusahaan trem di Hindia Belanda yang mendapat konsensi dari tahun 1897 hingga 1914 untuk membangun jalur kereta api sejauh 388 kilometer yang menghubungkan Semarang dengan Cirebon sampai Kadhipaten di ujung barat. Setelah selesai jalurnya, barulah didirikan beberapa stasiun yang ada di sepanjang jalur rel kereta api tersebut, di antaranya adalah Stasiun Pekalongan ini, yang dibuka untuk umum pada tanggal 1 Februari 1899. 


Awalnya, bangunan stasiun ini masih cukup sederhana berbentuk limasan, dan hanya terdiri dari bangunan utama saja. Kemudian seiring peningkatan jalur trem uap tersebut menjadi jalur kereta api dari tahun 1912 sampai dengan tahun 1921, maka bersamaan dengan proyek tersebut dilakukan renovasi besar-besaran terhadap bangunan stasiunnya. Peningkatan jalur kereta api tersebut terus berlanjut hingga tahun 1936 menjadi jalur kereta api kelas 1 (spoorweg 1e klasse).


Dulu, dari Stasiun Pekalongan ini terdapat 2 percabangan jalur kereta api, yaitu yang ke arah utara menuju ke pelabuhan dan yang ke selatan ke arah Wonopringgo. Jalur rel yang menuju ke pelabuhan (havensporen) ini memiliki panjang sekitar 4 kilometer dan dikerjakan oleh SCS pada tahun 1899, sehingga Pekalongan pada saat itu sudah mempunyai pelabuhan dengan standar pergudangan yang terkoneksi dengan kereta api (haven- en pakhuisspoor). Tapi sekarang jalur tersebut sudah tidak aktif lagi. Sedangkan, jalur rel Pekalongan-Kedungwuni-Wonopringgo yang mengarah ke selatan baru dibangun pada tahun 1916 oleh SCS. Jalur ini dulunya digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan yang berada di lereng Gunung Prahu menuju ke Pekalongan. Namun sayang, jalur ini telah rusak (opgebroken) yang diakibatkan oleh pembongkaran pasukan Jepang saat berkecamuknya Perang Dunia II.
Stasiun Pekalongan ini tergolong sebagai stasiun kelas besar, yang memiliki 3 jalur dengan jalur 2 dan 3 sebagai sepur lurus arah barat menuju ke Sragi, dan yang ke timur menuju ke Batang. Karena letaknya yang cukup strategis, stasiun ini banyak dilewati dan disinggahi oleh sejumlah kereta api, baik kelas ekonomi, bisnis maupun eksekutif. *** [090417]

Foto: Raras Budi Utami

Senin, 10 April 2017

Stasiun Kereta Api Pasarnguter

Stasiun Kereta Api Pasarnguter (PNT) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Pasarnguter, merupakan salah satu stasiun kereta api kecil atau stasiun kelas III yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta, yang berada pada ketinggian + 105 m di atas permukaan laut. Stasiun Pasarnguter terletak di Jalan Raya Nguter, Dukuh Nguter, Desa Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah tenggara Toko Pakaian Hanyboth atau sebelah utara/belakang Pasar Jamu Nguter ± 400 meter.
Stasiun Pasarnguter ini dibangun oleh perusahaan kereta api milik swasta, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada tahun 1922 setelah jalur kereta api Solo-Wonogiri diselesaikan. Stasiun ini merupakan pintu masuk ke Kabupaten Sukoharjo dari arah Stasiun Wonogiri menuju Stasiun Sukoharjo dan akan berakhir di Stasiun Purwosari Solo.


Pembangunan stasiun ini berhubungan dengan adanya pembangunan jalur kereta api Solo Kota-Wonogiri-Baturetno sepanjang 80 kilometer, yang dimulai pada tahun 1922 dan selesai pada tahun 1923 oleh NISM. Jalur kereta api ini memiliki garis normal rel (normaalspoorlijnen) 1067 mm. Pembangunan jalur ini, oleh pemerintah Hindia Belanda, awalnya ditujukan untuk mengangkut hasil bumi atau perkebunan yang berasal dari daerah Wonogiri dan Sukoharjo menuju Solo yang kemudian akan dikirim berikutnya baik ke Surabaya, Semarang dan Batavia.


Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah selatan (menuju Wonogiri) dan utara (menuju Solo), serta mempunyai peron berjumlah tiga. Dua peron sisi dan satu peron pulau yang sama-sama cukup tinggi.
Saat ini Stasiun Pasarnguter hanya disinggahi oleh railbus Bathara Kresna sebanyak empat kali dengan jadwal dua kali keberangkatan pulang pergi dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Wonogiri dan sebaliknya. Selain, untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, Stasiun Pasarnguter ini sesungguhnya memiliki masa depan yang cerah bagi kepariwisataan di daerah Nguter. Lokasinya yang dekat dengan Pasar Jamu Nguter, seharusnya ditangkap peluang untuk menciptakan wisata jamu. Penumpang kereta api yang bercorak wisata, bisa berhenti di Stasiun Pasarnguter, kemudian dipandu ke Pasar Jamu Nguter. Namun Pasar Jamu Nguter juga harus siap menampilkan jamu-jamu yang siap diminum dengan kedainya masing-masing dengan mengadopsi model jamu gendong, seperti gula asem, beras kencur, dong kates, dan sebagainya. Multiplier effect akan terjadi di daerah ini. *** [030417]