Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Senin, 19 Juni 2017

Stasiun Kereta Api di Daop 8 Surabaya

Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari Stasiun Bojonegoro (barat) sampai dengan Stasiun Blitar (selatan) dan Stasiun Mojokerto (barat) melintasi stasiun-stasiun di wilayah Provinsi Jawa Timur.
Berikut adalah stasiun-stasiun di Daop 8 Surabaya yang masih meninggalkan kekunaan pada bangunan stasiunnya:

Stasiun Benteng
Stasiun Benteng terletak di Jalan Stasiun Benteng, Kelurahan Ujung, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sidotopo
Stasiun Sidotopo terletak di Jalan Sidotopo Wetan, Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kalimas
Stasiun Kalimas terletak di Jalan Jakarta Barat, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Mesigit
Stasiun Mesigit terletak di Kelurahan Jepara, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Surabaya Pasarturi
Stasiun Surabaya Pasarturi terletak di Jalan Semarang No. 1 Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Surabaya Kota
Stasiun Surabaya Kota terletak di Jalan Stasiun Kota No. 9 Kelurahan Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Gubeng terletak di Jalan Stasiun Gubeng, Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Wonokromo terletak di Jalan Stasiun Wonokromo No. 1 Kelurahan Jagir, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Tandes
Stasiun Tandes terletak di Kelurahan Tandes Lor, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kandangan
Stasiun Kandangan terletak di Kelurahan Banjarsugihan, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Indro
Stasiun Indro terletak di Kelurahan Sidorukun, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Gresik
Stasiun Gresik terletak di Kelurahan Pekelingan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Benowo
Stasiun Benowo terletak di Kelurahan Benowo, Kecamatan Pakal, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Cerme
Stasiun Cerme terletak di Desa Cerme Lor, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sumari
Stasiun Sumari terletak di Desa Tirem, Kecamatan Duduk Sampeyan, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Lamongan terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 27 Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Pucuk terletak di Jalan Raya Pucuk atau Gresik-Babat, Desa Pucuk, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sumlaran terletak di Jalan Raya Sukodadi atau Gresik-Babat, Desa Sukodadi, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Babat
Stasiun Babat terletak di Kelurahan Babat, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sroyo
Stasiun Sroyo terletak di Desa Sroyo, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Bojonegoro terletak di Jalan Gajah Mada No. 65, Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Waru
Stasiun Waru terletak di Jalan Raya Waru, Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Gedangan, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sidoarjo terletak di Jalan Diponegoro No. 1 Kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Tanggulangin terletak di Jalan Raya Tanggulangin, Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Raya Porong, Kelurahan Porong, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Bangil terletak di Jalan Gajah Mada, Desa Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Wonokerto
Stasiun Wonokerto terletak di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Bangil terletak di Jalan Sukorejo-Bangil, Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sengon terletak di Jalan Stasiun Sengon Agung, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Lawang terletak di Jalan Thamrin, Kelurahan Lawang, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Singosari terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Blimbing terletak di Jalan Laksda Adi Sucipto-Stasiun Blimbing, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kota Baru Malang terletak di Jalan Trunojoyo No. 10 Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Malang Kota Lama terletak di Jalan Kolonel Soegiono, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Pakisaji terletak di Jalan Stasiun RT. 15 RW. 03 Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kepanjen terletak di Jalan Banurejo, Desa Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Ngebruk terletak di Jalan Stasiun Ngebruk, Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sumberpucung terletak di Jalan Stasiun, Desa Sumberpucung, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Pohgajih terletak di Jalan Pohgajih, Desa Pohgajih, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kesamben terletak di Jalan Stasiun, Desa Kesamben, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Wlingi terletak di Jalan Stasiun, Desa Beru, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sepanjang
Stasiun Sepanjang terletak di Jalan Stasiun Sepanjang, Desa Wonocolo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Boharan
Stasiun Boharan terletak di Desa Keboharan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Krian
Stasiun Krian terletak di Desa Krian, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kedinding
Stasiun Kedinding terletak di Desa Kedinding, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Jatisari-Tempuran, Desa Tarik, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Prambon
Stasiun Prambon terletak di Desa Kedungwonokerto, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Tulangan
Stasiun Tulangan terletak di Desa Tulangan, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Mojokerto terletak di Jalan Bhayangkara No. 20 Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Provinsi Jawa Timur

GKJ Margoyudan Surakarta

Surakarta, atau yang dikenal juga dengan sebutan Solo, merupakan sebuah kota yang terkenal akan corak budaya Jawa yang cukup menonjol. Selain dalam bidang budaya, Solo juga terkenal akan banyaknya bangunan bersejarah dalam dinamika perkembangan kehidupan sosio-kulturalnya. Bangunan-bangunan lawas tersebut seakan menjadi saksi akan keberadaan kota itu sendiri.
Salah satu bangunan kuno yang memiliki kisah hostoris adalah bangunan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Margoyudan. Gereja ini terletak di Jalan Wolter Monginsidi No. 44 Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi gereja ini berada di sebelah barat SD Kristen Banjarsari, atau SMA Negeri 2.
Keberadaan bangunan GKJ Margoyudan ini tidak terlepas dari keberadaan komunitas kristiani yang berada di Kota Solo pada waktu itu. Pekabaran Injil di tengah-tengah penduduk Nusantara awalnya tidak diusahakan oleh gereja tetapi merupakan usaha-usaha orang-orang Kristen secara perseorangan,  termasuk yang terjadi di Solo ini. Diawali dari persekutuan yang dipelopori oleh dr. Jan Gerrit (J.G.) Scheurer. Scheurer adalah seorang dokter yang aktif dalam melakukan pekabaran Injil di Jawa. Melalui medical mission, Schurer membuka praktek dokter dan sekaligus rumah doa di daerah Gilingan. Dengan dibantu istri dan beberapa warga pribumi, ia menyulap rumahnya laksana klinik yang lengkap dengan kamar bedahnya.
Dalam melaksanakan praktek dokter tersebut, dr. Scheurer juga sekaligus mewartakan Injil. Tiap hari minggu di tempat prakteknya, secara rutin diadakan kumpulan untuk merenungkan firman Tuhan. Karena Scheurer di sana belum mendapat izin praktek maka atas alasan “kedamaian dan ketertiban”, Residen Surakarta Hora Siccama dengan mengutip Peraturan Pemerintah No. 123 melarangnya. Hal ini yang menyebabkan Scheurer dan istrinya meninggalkan Solo dan kembali menuju ke Purworejo (Th. Sumartana, 1994: 82).


Setelah ditinggal oleh dr. Scheurer, kumpulan tiap hari Minggu yang telah dirintisnya diteruskan oleh Joyo Kardomo dengan mengadakan kebaktian di rumahnya yang berada di Ngemplak dengan dihadiri ± 20 orang. Kumpulan ini akhirnya kian hari kian berkembang, sehingga rumah Joyo Kardomo tidak mampu menampung lagi anggota kumpulan kebaktian tersebut. Hal ini kemudian didengar oleh seorang warga Belanda bernama Stegerhoek.
Stegerhoek adalah seorang berkebangsaan Belanda yang bermukim di Margoyudan, Solo. Ia adalah seorang penganut kristiani yang taat, dan ia juga merupakan menantu dari Ds. Aart Vermeer, seorang pendeta pertama di Purbalingga. Stegerhoek juga bercita-cita ingin mewartakan Injil tetapi terkendala akan bahasa, karena ia tidak bisa berbahasa Jawa. Kemudian ia menawarkan kepada kelompok Minggu Ngemplak untuk mengunakan bengkel pertukangannya sebagai tempat kebaktian namun masih berifat sembunyi-sembunyi.
Perjalanan kelompok Minggu yang semakin berkembang ini tak lepas dari pasang surut. Pelarangan demi pelarangan dari Pemerintah Hindia Belanda selalu menghantui kumpulan tersebut. Sampai tahun 1909, segala kegiatan pemeliharaan iman dipusatkan di rumah yang menjadi bengkel pertukangan kayu milik Stegerhoek. Atas berkat Tuhan, pada tahun 1909 sebuah rumah sederhana yang letaknya di sebelah timur bengkel pertukangan tersebut (sekarang menjadi SD Kristen Banjarsari) dapat dibeli oleh Zending atas bantuan Stegerhoek. Rumah tersebut kemudian dipergunakan sebagai tempat kegiatan pemeliharaan iman termasuk kumpulan. Dengan demikian, bengkel pertukangan Stegerhoek tidak dipergunakan lagi.
Setelah tanah dibeli, Pendeta Dr. D. Bakker Sr berencana mendirikan sekolah. Usulannya kemudian diajukan kepada Residen Belanda di Surakarta. Meski masih dibatasi beberapa aturan, sekolah pun berhasil didirikan yang kemudian diberi nama Sekolah Kristen Margoyudan. Bangunan yang digunakan adalah rumah yang juga dipakai untuk kegiatan kumpulan atau kebaktian. Artinya, rumah tersebut menjadi multifungsi. Selain menjadi rumah Pdt. D. Bakker, kumpulan atau kebaktian tiap hari Minggu, juga digunakan sebagai sekolahan.
Setelah sekolah terbentuk dan berjalan sesuai dengan misi untuk mewartakan pekabaran Injil, Pdt. D. Bakker mengajukan izin lagi untuk pekabaran Injil di Solo kepada Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg yang menjelaskan bahwa sesungguhnya setiap orang bebas untuk memilih dan atau memeluk agama, tidak boleh dipaksa atau dilarang. Oleh karena itu, beliau meminta supaya pengembangan Injil dalam bentuk apapun diperbolehkan dan tidak dihalangi.
Setelah menerima alasan tersebut, Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg dengan persetujuan Susuhunan Pakubuwono X, Raja Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangkunegoro VII, penguasa Pura Mangkunegaran, maka akhirnya terkabul permohonan kegiatan pewartaan Injil secara resmi di Solo. Sejak tahun 1910, Surakarta secara resmi terbuka untuk pewartaan Injil.
Sejak berkembangnya pengaruh Zending di Solo, maka komunitas Kristen Jawa selanjutnya berhasil menghimpun diri membentuk sebuah majelis. Setelah diwartakan kepada jemaat, maka pada hari Minggu, 30 April 1916 diresmikan terbentuknya Majelis yang diketuai oleh Pdt. Dr. Huibert Anthonie van Andel, bersama dengan tujuh orang majelis terpilih. Sebelumnya, Van Andel telah menjadi pendeta jemaat di wilayah Baarn sejak tahun 1908, kemudian dia diutus menjadi missionaries predikant (pendeta utusan) di Surakarta.
Peresmian terbentuknya majelis tersebut sekaligus penanda sebagai berdirinya GKJ Margoyudan dengan surya sengkala Rasa Manunggal Binukeng Gusti (1916) yang menempati bekas bengkel pertukangan milik Stegerhoek. Majelis tersebut bertugas mengurus dan merawat saudara-saudara Kristen yang ada di seluruh daerah Surakarta.
Dengan jatuhnya Hindia Belanda kepada Balatentara Dai Nippon (pasukan Jepang) pada 5 Maret 1942 mengakibatkan timbulnya berbagai kesulitan bagi GKJ Margoyudan. Gedung gereja ini diminta Jepang untuk dijadikan Kantor Seinedan. Seinedan adalah sebuah organisasi barisan pemuda yang dibentuk oleh tentara Jepang pada 9 Maret 1943. Pada waktu itu Jepang telah berhasil menduduki gedung-gedung milik Kasunanan, Mangkunegaran, Pasturan, Bruderan dan lain-lainnya untuk kepentingan Jepang.
Hal ini sekaligus menyebabkan kemuduran anggota jemaat yang dulu umumnya adalah pegawai Zending, seperti guru dan perawat. Mereka semua meninggalkan Hindia Belanda karena takut ditawan oleh Jepang.
Setelah adanya pengakuan kedaulatan kepada Indonesia dari Pemerintah Kerajaan Belanda pada tahun 1950, GKJ Margoyudan mulai mengatur kegiatannya kembali. Dengan dibukanya kembali sekolah-sekolah Kristen, maka pertumbuhan gereja semakin pesat. Pada tahun 1952, jemaat memperluas bangunan gereja induk dan sejak saat itu pemberitaan Injil diaktifkan serta pembinaan warga digiatkan kembali.
Meski GKJ Margoyudan berdiri dengan bantuan Zending, akan tetapi corak arsitektur bangunan gerejanya merupakan perpaduan arsitekur Jawa dan Eropa. Secara fasad, kesan kolonial memang terlihat, namun setelah memasuki gereja suasana Jawa akan terasa. Tiang-tiang penyangga bangunan terbuat dari kayu dengan kursi rotan berjejer sebagai tempat duduk jemaat ketika melakukan kebaktian. Jendela yang berada di kiri kanan, di atasnya diberi ornamen kaca berbentuk gunungan, yang menjadi simbol penting dalam budaya Jawa. *** [300614]

Kepustakaan:
Surmartana, Th. (1994). Mission at The Crossroads: Indigenous Churches, European Missionaries, Islamic Association and Socio-Religious Change in Java 1812-1936. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia
http://www.gkjmargoyudan.or.id/index.php/en/profil/sejarah-gkj-margoyudan?showall=&start=3

Toko Lautan Mas Jakarta

Toko Lautan Mas sudah tidak asing lagi di telinga para penggemar mancing mania. Toko ini menyediakan semua peralatan dan perlengkapan yang menyangkut fishing, mulai dari alat pancing hingga peralatan menyelam. Toko ini terletak di Jalan Toko Tiga No. 24 RT. 03 RW. 01 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Lokasi toko ini berada di sebelah selatan PT. Sinar Saudara Baru (Supplier Kertas) dan di sebelah utara PT. Embossindo Utara (Supplier Kertas).
Selain terkenal akan kelengkapannya, Toko Lautan Mas juga tetap mempertahankan bentuk bangunan aslinya. Bangunan lawas bergaya Tiongkok ini menyimpan ceritera masa lampau yang penuh haru biru. Bangunan Toko Lautan Mas ini dulunya merupakan bekas kediaman dan sekaligus tempat usaha tembakau Liutenant der Chinezen (Letnan Tionghoa) Oey Thoa yang berasal dari Pekalongan.
Benny Gatot Setiono dalam bukunya, Tionghoa Dalam Pusaran Politik (2008: 223-226) menjelaskan, bahwa Oey Thoa adalah seorang saudagar tembakau yang kaya raya, anggota pengurus Kongkoan yang bertempat tinggal di daerah Toko Tiga, dekat Glodok, Jakarta sekitar 1837. Oey Thoa mempunyai sahabat karib Majoor der Chinezen (Mayor Tionghoa) Tan Eng Gan yang menjadi Ketua Dewan Tionghoa atau Kongkoan.
Walaupun Oey Thoa pendatang, tetapi karena berjiwa sosial dan sering memberikan pertolongan kepada orang-orang yang tidak mampu, namanya cukup dikenal. Setiap tanggal satu dan lima belas kalender Tionghoa, ratusan orang miskin telah menantinya di Klenteng Kim Tek Ie, tempat ia melakukan ibadahnya, untuk menantikan saat-saat ia membagikan bantuannya.


Oey Thoa mempunyai empat orang anak. Yang pertama seorang perempuan yang kemudian dipersunting oleh anak laki-laki Bupati Pekalongan kala itu. Yang kedua seorang anak laki-laki bernama Oey Holan, ketiga Oey Tambah dan yang keempat bernama Oey Mako.
Ketika Oey Thoa meninggal dunia, Oey Tambah Sia yang ganteng mengambil alih kendali perusahaan ayahnya. Kata ‘Sia’ dibelakang nama Oey Tambah, sebenarnya bukan merupakan bagian nama melainkan sebutan yang bisa digunakan dalam kalangan masyarakat Tionghoa peranakan di Jakarta zaman itu, untuk menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan anak seorang opsir Tionghoa.
Tapi, berbeda dengan ayahnya, Oey Tambah Sia ternyata mempunyai sifat yang sangat buruk. Kesukaannya selain bermain perempuan, berjudi, dan adu jago juga mengisap madat. Ia memelihara beberapa tukang pukul dan germo yang setiap saat siap mensuplai perempuan yang dibutuhkannya, baik yang berstatus gadis maupun istri orang.
Sikap Oey Tambah Sia sangat arogan dan memandang rendah para pemimpin Tionghoa yang menjadi sahabat ayahnya. Dengan mempergunakan kekayaannya, ia memelihara hubungan baik dengan para pembesar Hindia Belanda yang ternyata juga banyak yang korup dan bersedia menjadi pelindungnnya. Ia merasa dengan uangnya ia dapat memperoleh segala apa pun yang ia inginkan, tanpa menghiraukan kerugian yang ia timbulkan kepada orang lain.
Dengan bantuan para tukang pukulnya dan seorang germo, Oey Tambah Sia berhasil merayu Nyonya Khoe Tjin Yang. Nyonya Khoe Tjin Yang adalah istri pedagang kelontong di Tongkangan dan menyimpannya di bungalow Bintang Mas di daerah Ancol yang khusus dibangun untuk berfoya-foya. Suami perempuan tersebut akhirnya menjadi gila dan kemudian hilang, yang menurut dugaan dibunuh oleh tukang pukul Oey Tambah Sia. Selain Nyonya Khoe Tjin Yang, dengan mengandalkan uang dan ketampanannya di tempat tersebut hampir setiap hari ia berfoya-foya dengan perempuan lainnya tanpa peduli gadis baik-baik ataupun istri orang.
Para pemimpin masyarakat Tionghoa yang tergabung dalam Kongkoan telah berkali-kali mengadakan rapat dan mendesak Mayor Tan Eng Gan untuk bertindak menghentikan perbuatan Oey Tambah Sia yang merusak dan memalukan tersebut. Tapi, karena Oey Thoa semasa hidupnya sering memberikan bantuan keuangan kepada mayor Tan Eng Gan maka dengan berbagai alasan yang dicari-cari, Tan Eng Gan selalu meminta kepada anggota Dewan agar memberikan kesempatan kepada Oey Tambah Sia untuk memperbaiki diri.
Sikap Mayor Tan Eng Gan tersebut tidak memuaskan anggota Dewan dan mereka tetap mendesak agar diambil sikap yang tegas untuk menghentikan perbuatan Oey Tambah Sia. Tan Eng Gan akhirnya terdesak dan berjanji akan bertindak dan memberikan peringatan kepada Oey Tambah Sia agar menghentikan perbuatan dan tingkah lakunya yang buruk tersebut.
Namun, malah kemudian Oey Tambah Sia dengan rayuan dan uangnya, berhasil memboyong Mas Adjeng Gundjing. Ia adalah pesinden asal Pekalongan yang sangat terkenal, baik kecantikannya maupun kepandaiannya menyanyi dan menari. Mas Adjeng Gundjing kemudian disimpan di landhuis-nya di daerah Pasar Baru, Tangerang dan dijadikan gundiknya. Karena kesalahpahaman yang menimbulkan kecemberuan, yang mengira Sutedjo kakak kandung Mas Adjeng Gundjing sebagai kekasihnya, Oey Tambah Sia menyuruh Piun dan Sura, tukang pukulnya untuk membunuhnya.
Selanjutnya, karena ingin menfitnah Lim Soe Keng (menantu dari Mayor Tan Eng Gan), Oey Tambah Sia dengan tega meracuni Tjeng Kie pembantunya yang setia. Namun, tuduhannya terhadap Lim Soe Keng ternyat tidak terbukti. Dan, investigasi yang dilakukan oleh Mayor Tan Eng Gan dan Lim Soe Keng dengan dibantu para pemimpin masyarakat Tionghoa lainnya, berhasil membawa Oey Tambah Sia ke tahanan polisi.
Pengadilan (landraad) yang berlangsung dengan dihadiri ratusan penduduk Batavia dan sekitarnya, akhirnya menjatuhkan hukuman gantung sampai mati di muka umum kepada Oey Tambah Sia. Usaha keluarganya untuk aik banding ke pengadilan yang telah tinggi (raad van justitie) tidak berhasil. Demikian juga permohonan grasi kepada gubernur jenderal ditolak.
Demekianlah, pada 1851, Oey Tambah Sia harus menjalani hukuman gantung sampai mati yang dilaksanakan pada saat fajar. Eksekusi dilakukan di lapangan di muka Stadhuis atau balai kota yang sekarang bernama Taman Fatahillah.  *** [060516]

Kepustakaan:
Setiono, Benny G. (2008). Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Jakarta: TransMedia Pustaka

Sabtu, 17 Juni 2017

Stasiun Kereta Api di Daop 7 Madiun

Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Walikukun (barat) sampai dengan stasiun Curahmalang (timur) dan stasiun Rejotangan (selatan) melintasi stasiun-stasiun di wilayah Provinsi Jawa Timur.
Berikut adalah stasiun-stasiun di Daop 7 Madiun yang masih meninggalkan kekunaan pada bangunan stasiunnya:

Stasiun Walikukun terletak di Jalan Stasiun Walikukun, Desa Walikukun, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kedunggalar terletak di Jalan Stasiun, Dusun Pulorejo RT. 03 RW. 08 Desa Kedunggalar, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Paron
Stasiun Paron terletak di Jalan Raya Paron, Desa Paron, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Geneng terletak di Jalan PG Soedhono, Desa Tepas, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Barat
Stasiun Barat terletak di Jalan Stasiun Barat, Desa Karangsono, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Madiun terletak di Jalan Kompol Sunarnyo No. 6A Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Babadan terletak di Jalan Babadan No. 4 Desa Dimong, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Caruban
Stasiun Caruban terletak di Jalan Stasiun Caruban, Desa Krajan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Saradan terletak di Jalan Stasiun RT.01 Rw.01 Desa Sugihwaras, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Wialangan terletak di Jalan Stasiun Wilangan, Desa Wilangan, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur.

Stasiun Bagor terletak di Jalan Raya Madiun-Nganjuk, Desa Paron, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Nganjuk
Stasiun Nganjuk terletak di Jalan Raya PB Sudirman, Desa Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sukomoro
Stasiun Sukomoro terletak di Jalan Raya Kertosono-Nganjuk, Desa Sukomoro, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Baron terletak di Jalan Raya Kertosono - Nganjuk, Desa Baron, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kertosono terletak di Jalan Stasiun, Desa Banaran, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sembung
Stasiun Sembung terletak di Jalan Raya Perak, Desa Sembung, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Jombang
Stasiun Jombang terletak di Jalan Jenderal Basuki Rachmat No. 1 Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Peterongan
Stasiun ini terletak di Desa Perterongan, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sumobito
Stasiun Sumobito terletak di Desa Sumobito, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Curahmalang
Stasiun Curahmalang terletak di Desa Budugsidorejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Purwoasri
Stasiun Purwoasri terletak di Kelurahan Purwoasri, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Papar
Stasiun Papar terletak di Kelurahan Papar, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Minggiran
Stasiun Minggiran terletak di Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Susuhan
Stasiun Susushan terletak di Jalan Raya Kertosono-Kediri, Kelurahan Gampengrejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kediri terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Semampir, Kecamatan Kediri, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Ngadiluwih
Stasiun Ngadiluwih terletak di Jalan Stasiun Ngadiluwih, Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kras terletak di Jalan Stasiun Kras, Desa Purwodadi, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Ngujang
Stasiun Ngujang terletak di Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Tulungagung terletak di Jalan Pangeran Antasari No. 7 Kelurahan Kauman, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Sumbergempol terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Lingkungan 06 Desa Ngunut, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Desa Rejotangan, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Blitar terletak di Jalan Mastrip No. 75, Kelurahan Kepanjenkidul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Garum terletak di Desa Tawangsari, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Talun terletak di Jalan Stasiun RT.02 RW.01 Kelurahan Talun, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Jumat, 16 Juni 2017

Stasiun Kereta Api Kras

Stasiun Kereta Api Kras (KRS) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Kras, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 75 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun yang lokasinya paling selatan di Kabupaten Kediri. Stasiun Kras terletak di Jalan Stasiun Kras, Desa Purwodadi, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat Balai Desa Kras, atau berjarak sekitar 200 m dengan Jalan Raya Kediri-Tulungagung.


Bangunan Stasiun Kras ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, sepanjang 64 kilometer yang merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur). Peresmian jalur ini dilakukan pada 16 Mei 1884.
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Ngadiluwih dan arah timur menuju Stasiun Ngujang. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Meski Stasiun Kras tergolong sebagai stasiun kelas III atau stasiun keci, namun keberadaannya masih beruntung bila dibandingkan dengan stasiun kecil lainnya. Karena di stasiun ini masih terdapat satu kereta api yang singgah melayani penumpang di stasiun ini, yaitu KA Dhoho. Sehingga, aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini masih menghiasi aktivitas stasiun ini dalam kesehariannya. *** [130617]

Stasiun Kereta Api Bagor

Stasiun Kereta Api Bagor (BGR) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Bagor, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 58 m di atas permukaan laut. Stasiun Bagor terletak di Jalan Raya Madiun-Nganjuk, Desa Paron, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah tenggara Kantor Kepala Desa Paron, dan berjarak sekitar 550 m dari Kantor Kecamatan Bagor.


Bangunan Stasiun Bagor ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kertosono-Nganjuk-Madiun. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1881 dan selesai pada tahun 1882 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, sepanjang 69 kilometer yang merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah barat daya menuju Stasiun Wilangan dan arah timur menuju Stasiun Nganjuk. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini. Selain itu masih ada satu jalur tambahan sebagai sepur badug atau jalur buntu yang terletak di sebelah bangunan stasiun.
Stasiun Bagor merupakan stasiun kelas III atau stasiun kecil. Stasiun ini tidak melayani aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang kereta api, melainkan hanya berfungsi sebagai tempat persilangan dan persusulan antarkereta api saja. *** [130617]

Stasiun Kereta Api Walikukun

Stasiun Kereta Api Walikukun (WK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Walikukun, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 74 m di atas permukaan laut. Stasiun Walikukun terletak di Jalan Stasiun Walikukun, Desa Walikukun, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur palang sepur Walikukun, dan berjarak sekitar 650 m dari Pasar Walikukun.


Bangunan Stasiun Walikukun ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur rel kereta api Madiun-Paron-Sragen-Solobalapan. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, sepanjang 97 kilometer yang merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur). Peresmian jalur ini dilakukan pada 24 Mei 1884.
Stasiun ini memiliki 3 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah barat menuju Stasiun Kedubangteng dan arah timur menuju Stasiun Kedunggalar. Jalur 2 dan 3 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini. Selain itu masih ada satu jalur tambahan sebagai sepur badug atau jalur buntu yang terletak di sebelah bangunan stasiun.
Meski tergolong sebagai stasiun kelas III atau stasiun kecil, Stasiun Walikukun masih beruntung bila dibandingkan dengan stasiun kecil lainnya, karena di stasiun ini terlihat aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang. Layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini meliputi kereta api ekonomi jarak jauh, seperti Sri Tanjung, Logawa, Pasundan, Brantas, Gaya Baru Malam Selatan, Krakatau, Majapahit, dan lain-lain. *** [130617]