Selasa, 17 Juli 2012

Gedung Bank Indonesia Solo

Peninggalan De Javasche Bank (DJB) tersebar di berbagai kota di Indonesia. Keberadaan pusaka kota tersebut umumnya terletak dalam posisi ruang kota yang sangat berarti yakni di pusat kota yang sekaligus menunjukkan jati dirinya sebagai salah satu cikal bakal pertumbuhan kota. Sementara dari tampilan fisiknya juga memperlihatkan sosok yang berarti dalam mewakili desain/rancangan pada zamannya. Berbagai bangunan eks-DJB tersebut umumnya kini dimiliki dan dikelola oleh Bank Indonesia (BI).
Meniliki sisi kesejarahan yang sangat berharga dan menonjol serta posisinya kini sebagai aset BI, sudah selayaknya pemanfaatan dan pengelolaan pelestarian termasuk perawatan bangunan-bangunan eks DJB mengikuti kaidah-kaidah pelestarian yang benar. Pelestarian bangunan-bangunan eks DJB lebih jauh diharapkan mampu mendorong pemilik dan pengelola pusaka-pusaka lain di sekililing kawasan melakukan hal yang sama, sekaligus mendorong pengembangan pelestarian pusaka di masing-masing kota di mana bangunan eks DJB berada.


Bangunan Kantor BI Cabang Solo, dalam sejarahnya juga merupakan bekas bangunan DJB, sebuah bank sirkulasi untuk Hindia Belanda. Pertama kali DJB dibangun di Batavia (sekarang menjadi Museum BI), lalu DJB mulai membuka kantor cabang di luar Batavia, salah satunya adalah yang berada di Kota Solo.
Bangunan Kantor BI Cabang Solo terletak di Jalan Jend. Sudirman No. 4 Solo merupakan kantor cabang keenam setelah Semarang, Surabaya, Padang, Makassar dan Cirebon.  Presiden DJB, CFW Wiggers van Kerchem, menyatakan pendirian Kantor Cabang Solo (Agentschap Soerakarta), melalui prosedur rapat umum pemegang saham luar biasa, dengan Surat Keputusan No. 15  Tanggal 23 Oktober 1867, maka disetujuilah pendirian kantor Cabang Solo dan diresmikan pada 25 November 1867. Bangunan ini dirancang oleh Biro Arsitek Belanda Hulswitt, Fermont dan Ed. Cuypers. Corak arsitektur gedung ini sama dengan dengan beberapa gedung kantor eks DJB lainnya. ***

0 komentar:

Posting Komentar