Jumat, 27 Oktober 2017

Klenteng Tjoe Tik Bio Juwana

Juwana merupakan salah satu nama kecamatan yang terdapat di Kabupaten Pati. Letaknya berada di pesisir utara Pulau Jawa. Sebagai daerah pesisir, Juwana memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang. Oleh karena itu, Juwana pun menjadi salah satu kawasan tua yang ada di daerah pantai utara (pantura).
Sebagai kota tua, Juwana banyak memiliki peninggalan-peninggalan berupa bangunan lawas, di antaranya adalah Klenteng Tjoe Tik Bio. Klenteng ini terletak di Jalan Camong No. 1 Desa Kauman, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi klenteng ini berada di sebelah utara perusahaan rokok bernama PT Tapal Kuda Kencana.
Keberadaan klenteng ini tidak terlepas dari keberadaan orang-orang Tionghoa yang bermukim di Juwana. Ketika terjadi Geger Pecinan (juga dikenal sebagai Tragedi Angke, dalam bahasa Belanda Chinezenmoord yang berarti “Pembunuhan orang Tionghoa) di Batavia pada tahun 1740, lebih sepuluh ribu orang Tionghoa perantauan asal Tiongkok, dibantai oleh Verenigde Oostindische Compagnie (VOC), atau yang sering disebut dengan Kompeni Belanda. Mereka dianggap mengancam kongsi dagang Belanda. Pada waktu itu, di Batavia jumlah orang Tionghoa diperkirakan sudah melebihi jumlah serdadu VOC.


Akibat adanya tragedi tersebut, orang-orang Tionghoa yang berhasil lolos dari pembantaian di Batavia melarikan diri ke timur dengan menggunakan perahu, menyusuri sepanjang daerah pesisir menuju Jawa Tengah, Jawa Timur bahan sampai Bali. Sebagian di antaranya ada yang masuk ke alur Kali Silugonggo di Juwana, Pati. Agar lebih amam, para pengungsi masuk ke pedalaman hingga 10 kilometer dari muara hingga sampai di Desa Tluwah.
Di desa itu, orang-orang Tionghoa tersebut kemudian bermukim dan mulai berdagang untuk menyambung hidup paska tragedi di Batavia. Setelah merasa aman dan usaha dagang mereka semakin maju, orang-orang Tionghoa pelarian dari Batavia tersebut mendirikan klenteng Tjong Hok Bio.
Setelah hulu Kali Silugonggo menjadi pelabuhan, maka klenteng perlu dipindahkan di daerah hulu. Lalu dibangunlah klenteng Hok Khing Bio di Demaan 5 kilometer utara klenteng Tjong Hok Bio tapi ternyata lokasinya kurang bagus karena berada di antara kandang babi. Terakhir dibangun klenteng Tjoe Tik Bio di Camong, Juwana. Ketiga-tiganya dibangun antara tahun 1740 sampai dengan tahun 1780.
Dilihat dari lingkungan sekitar, bangunan klenteng Tjoe Tik Bio memiliki kekhasan sebagai bangunan peninggalan seni arstektur tradisional Tiongkok dengan dominasi warna merah. Sebelum memasuki halaman klenteng, pengunjung bisa melalui men lou wu, sebuah pintu gerbang berbentuk paduraksa untuk masuk ke dalam persil. Yang menarik dari pintu gerbang ini, diapit oleh pagar bertembok putih yang di atasnya ditaruh beberapa shi zi, yaitu singa batu atau ukiran singa batu yang biasa ditempatkan di muka klenteng.


Selama penulis mengunjungi sejumlah bangunan klenteng di seluruh Indonesia, baru menemui banyak shi zi hanya di klenteng Tjoe Tik Bio. Hal inilah yang menjadi salah satu kekhasan klenteng di Juwana ini.
Setelah berada di halaman klenteng, pengunjung bisa melihat tempat pembakaran kertas-kertas doa berwarna merah di kiri kanan halaman. Di atas pembakaran ini pun, pengunjung juga akan menemui shi zi di atasnya.
Selain itu, pengunjung juga bisa menyaksikan kompleks bangunan klenteng yang cukup lumayan terawat. Di sebelah kiri dan kanan bangunan utama dijumpai bangunan dengan tembok berbentuk gunungan, dan bagian atas temboknya berbentuk sudut puncak pada atap pelana. Bagian inilah yang dalam istilah arsitektur tradisional Tiongkok dikenal dengan shan qiang.
Sebelum sampai kepada bangunan utama, pengunjung terlebih dahulu melewati bangunan serambi depan. Di serambi itu, juga dijaga oleh shi zi di sebelah kiri dan kanannya, dan di tengahnya terdapat hiolo, bejana terbuat dari kuningan tempat menancapkan hio (dupa khas orang Tionghoa).
Pada serambi klenteng ini terdapat 8 kolom kayu berpenampang bujur sangkar, yang dalam istilah arsitektur tradisional Tiongkok disebut fang zhu, atau yang dalam bahasa Jawa dinamakan soko. Tak kalah menariknya adalah adanya ornamen di atas atap serambi tersebut, seperti huo zhu (mutiara api Sang Buddha) yang dijaga oleh kedua naga sedang berjalan (xing long).
Dari serambi, kemudian pengunjung bisa masuk ke dalam bangunan utama klenteng. Di dalam bangunan utama tersebut terdapat sejumlah altar untuk menempatkan patung dewa yang dipujanya. Di antaranya adalah altar Hok Tek Tjien Sien (Dewa Bumi) dan Kong Tek Tjoen Ong (Dewa Pelindung Orang-orang Perantau). Sedangkan sebagai dewa utamanya di klenteng ini adalah Makco Lam Hay Sien Nie Kwam Im Hoed Tjo, atau yang dikenal juga sebagai dewi yang penuh welas asih. Oleh karena itu, di klenteng Tjoe Tik Bio ini acapkali digelar perayaan ulang tahun Bwato (moksa) Dewi Kwam Iem yang diperingati tiap tanggal 19 bulan kesembilan penanggalan Imlek. *** [070914]

Foto: M. Agus Prijadi

Kepustakaan:
Chris, Heru. (2012, Edisi Oktober). Kelenteng Tertua Tapi Sengsara. Majalah Intan Dalam Debu, pp. 45.
https://kelenteng300.blogspot.co.id/2011/06/tjoe-tik-bio-juana-pati-jateng.html?view=flipcard

0 komentar:

Posting Komentar