Senin, 19 Juni 2017

GKJ Margoyudan Surakarta

Surakarta, atau yang dikenal juga dengan sebutan Solo, merupakan sebuah kota yang terkenal akan corak budaya Jawa yang cukup menonjol. Selain dalam bidang budaya, Solo juga terkenal akan banyaknya bangunan bersejarah dalam dinamika perkembangan kehidupan sosio-kulturalnya. Bangunan-bangunan lawas tersebut seakan menjadi saksi akan keberadaan kota itu sendiri.
Salah satu bangunan kuno yang memiliki kisah hostoris adalah bangunan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Margoyudan. Gereja ini terletak di Jalan Wolter Monginsidi No. 44 Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi gereja ini berada di sebelah barat SD Kristen Banjarsari, atau SMA Negeri 2.
Keberadaan bangunan GKJ Margoyudan ini tidak terlepas dari keberadaan komunitas kristiani yang berada di Kota Solo pada waktu itu. Pekabaran Injil di tengah-tengah penduduk Nusantara awalnya tidak diusahakan oleh gereja tetapi merupakan usaha-usaha orang-orang Kristen secara perseorangan,  termasuk yang terjadi di Solo ini. Diawali dari persekutuan yang dipelopori oleh dr. Jan Gerrit (J.G.) Scheurer. Scheurer adalah seorang dokter yang aktif dalam melakukan pekabaran Injil di Jawa. Melalui medical mission, Schurer membuka praktek dokter dan sekaligus rumah doa di daerah Gilingan. Dengan dibantu istri dan beberapa warga pribumi, ia menyulap rumahnya laksana klinik yang lengkap dengan kamar bedahnya.
Dalam melaksanakan praktek dokter tersebut, dr. Scheurer juga sekaligus mewartakan Injil. Tiap hari minggu di tempat prakteknya, secara rutin diadakan kumpulan untuk merenungkan firman Tuhan. Karena Scheurer di sana belum mendapat izin praktek maka atas alasan “kedamaian dan ketertiban”, Residen Surakarta Hora Siccama dengan mengutip Peraturan Pemerintah No. 123 melarangnya. Hal ini yang menyebabkan Scheurer dan istrinya meninggalkan Solo dan kembali menuju ke Purworejo (Th. Sumartana, 1994: 82).


Setelah ditinggal oleh dr. Scheurer, kumpulan tiap hari Minggu yang telah dirintisnya diteruskan oleh Joyo Kardomo dengan mengadakan kebaktian di rumahnya yang berada di Ngemplak dengan dihadiri ± 20 orang. Kumpulan ini akhirnya kian hari kian berkembang, sehingga rumah Joyo Kardomo tidak mampu menampung lagi anggota kumpulan kebaktian tersebut. Hal ini kemudian didengar oleh seorang warga Belanda bernama Stegerhoek.
Stegerhoek adalah seorang berkebangsaan Belanda yang bermukim di Margoyudan, Solo. Ia adalah seorang penganut kristiani yang taat, dan ia juga merupakan menantu dari Ds. Aart Vermeer, seorang pendeta pertama di Purbalingga. Stegerhoek juga bercita-cita ingin mewartakan Injil tetapi terkendala akan bahasa, karena ia tidak bisa berbahasa Jawa. Kemudian ia menawarkan kepada kelompok Minggu Ngemplak untuk mengunakan bengkel pertukangannya sebagai tempat kebaktian namun masih berifat sembunyi-sembunyi.
Perjalanan kelompok Minggu yang semakin berkembang ini tak lepas dari pasang surut. Pelarangan demi pelarangan dari Pemerintah Hindia Belanda selalu menghantui kumpulan tersebut. Sampai tahun 1909, segala kegiatan pemeliharaan iman dipusatkan di rumah yang menjadi bengkel pertukangan kayu milik Stegerhoek. Atas berkat Tuhan, pada tahun 1909 sebuah rumah sederhana yang letaknya di sebelah timur bengkel pertukangan tersebut (sekarang menjadi SD Kristen Banjarsari) dapat dibeli oleh Zending atas bantuan Stegerhoek. Rumah tersebut kemudian dipergunakan sebagai tempat kegiatan pemeliharaan iman termasuk kumpulan. Dengan demikian, bengkel pertukangan Stegerhoek tidak dipergunakan lagi.
Setelah tanah dibeli, Pendeta Dr. D. Bakker Sr berencana mendirikan sekolah. Usulannya kemudian diajukan kepada Residen Belanda di Surakarta. Meski masih dibatasi beberapa aturan, sekolah pun berhasil didirikan yang kemudian diberi nama Sekolah Kristen Margoyudan. Bangunan yang digunakan adalah rumah yang juga dipakai untuk kegiatan kumpulan atau kebaktian. Artinya, rumah tersebut menjadi multifungsi. Selain menjadi rumah Pdt. D. Bakker, kumpulan atau kebaktian tiap hari Minggu, juga digunakan sebagai sekolahan.
Setelah sekolah terbentuk dan berjalan sesuai dengan misi untuk mewartakan pekabaran Injil, Pdt. D. Bakker mengajukan izin lagi untuk pekabaran Injil di Solo kepada Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg yang menjelaskan bahwa sesungguhnya setiap orang bebas untuk memilih dan atau memeluk agama, tidak boleh dipaksa atau dilarang. Oleh karena itu, beliau meminta supaya pengembangan Injil dalam bentuk apapun diperbolehkan dan tidak dihalangi.
Setelah menerima alasan tersebut, Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg dengan persetujuan Susuhunan Pakubuwono X, Raja Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangkunegoro VII, penguasa Pura Mangkunegaran, maka akhirnya terkabul permohonan kegiatan pewartaan Injil secara resmi di Solo. Sejak tahun 1910, Surakarta secara resmi terbuka untuk pewartaan Injil.
Sejak berkembangnya pengaruh Zending di Solo, maka komunitas Kristen Jawa selanjutnya berhasil menghimpun diri membentuk sebuah majelis. Setelah diwartakan kepada jemaat, maka pada hari Minggu, 30 April 1916 diresmikan terbentuknya Majelis yang diketuai oleh Pdt. Dr. Huibert Anthonie van Andel, bersama dengan tujuh orang majelis terpilih. Sebelumnya, Van Andel telah menjadi pendeta jemaat di wilayah Baarn sejak tahun 1908, kemudian dia diutus menjadi missionaries predikant (pendeta utusan) di Surakarta.
Peresmian terbentuknya majelis tersebut sekaligus penanda sebagai berdirinya GKJ Margoyudan dengan surya sengkala Rasa Manunggal Binukeng Gusti (1916) yang menempati bekas bengkel pertukangan milik Stegerhoek. Majelis tersebut bertugas mengurus dan merawat saudara-saudara Kristen yang ada di seluruh daerah Surakarta.
Dengan jatuhnya Hindia Belanda kepada Balatentara Dai Nippon (pasukan Jepang) pada 5 Maret 1942 mengakibatkan timbulnya berbagai kesulitan bagi GKJ Margoyudan. Gedung gereja ini diminta Jepang untuk dijadikan Kantor Seinedan. Seinedan adalah sebuah organisasi barisan pemuda yang dibentuk oleh tentara Jepang pada 9 Maret 1943. Pada waktu itu Jepang telah berhasil menduduki gedung-gedung milik Kasunanan, Mangkunegaran, Pasturan, Bruderan dan lain-lainnya untuk kepentingan Jepang.
Hal ini sekaligus menyebabkan kemuduran anggota jemaat yang dulu umumnya adalah pegawai Zending, seperti guru dan perawat. Mereka semua meninggalkan Hindia Belanda karena takut ditawan oleh Jepang.
Setelah adanya pengakuan kedaulatan kepada Indonesia dari Pemerintah Kerajaan Belanda pada tahun 1950, GKJ Margoyudan mulai mengatur kegiatannya kembali. Dengan dibukanya kembali sekolah-sekolah Kristen, maka pertumbuhan gereja semakin pesat. Pada tahun 1952, jemaat memperluas bangunan gereja induk dan sejak saat itu pemberitaan Injil diaktifkan serta pembinaan warga digiatkan kembali.
Meski GKJ Margoyudan berdiri dengan bantuan Zending, akan tetapi corak arsitektur bangunan gerejanya merupakan perpaduan arsitekur Jawa dan Eropa. Secara fasad, kesan kolonial memang terlihat, namun setelah memasuki gereja suasana Jawa akan terasa. Tiang-tiang penyangga bangunan terbuat dari kayu dengan kursi rotan berjejer sebagai tempat duduk jemaat ketika melakukan kebaktian. Jendela yang berada di kiri kanan, di atasnya diberi ornamen kaca berbentuk gunungan, yang menjadi simbol penting dalam budaya Jawa. *** [300614]

Kepustakaan:
Surmartana, Th. (1994). Mission at The Crossroads: Indigenous Churches, European Missionaries, Islamic Association and Socio-Religious Change in Java 1812-1936. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia
http://www.gkjmargoyudan.or.id/index.php/en/profil/sejarah-gkj-margoyudan?showall=&start=3

0 komentar:

Posting Komentar